o Irama Padang Pasir

Orkes IRAMA PADANG PASIR dulu bernama orkes gambus dengan tujuan pendiriannya untuk dakwah. masing-masing grup berlomba menyempurnakan pemain dan peralatan. orkes irama melayu telah lama pupus dari medan. (ms)

ADAPUN pertumbuhan orkes-orkes irama padang pasir di Sumatera Utara agak unik. Gerombolan musik yang berorientasi ke Timur Tengah itu, di daerah tersebut, memiliki sejarah yang konon sudah mulai sejak tahun tigapuluhan. Tokoh-tokoh seperti Hasyim PE mas, Haji Adam Sakimaman dan Haji Azra'i Abdurrauf atau Haji A. Rifai Abdja Manaf masih tetap dikenang sebagai penggerak orkes berirama kasidah itu. Alhamdulilah sampai sekarang mereka lmasih sehat walafiat. Malah seperti Haji Azra'i sendiri sekarang lebih dikenal sebagai guru para qari dan qariah yang mengikuti MTQ Nasional, selain pernah dikenal sebagai ahli kasidah tidak hanya di Sumatera Utara. Namanya terdengar sampai ke Malaysia. Sedang Haji Rivai sejak tahun 1938 -- ketika masih bekerja di Nirom -- sudah memulai karirnya sebagai pencipta lagu bernafas Mesir. Tetapi karya anggota DPRD Kotamadya Medan dari Golkar ini yang amat populer sampai sekarang adalah lagu panggilan Jihad yang meneriakkan "Allahu Akbar" -- dan karena itu -- sering dikenal sebagai lagu Allahu Akbar. Malah lagu ini dinilai oleh Menteri Kemajuan Tanah, Galian dan Tugas-tugas Khas Malaysia, Datuk Ashry bin Haji Muda seperti dikatakan kepada koresponden TEMPO di Medan baru-baru ini, sebagai lagu "yang, membangkitkan semangat dan kepahlawanan bagi perjoangan ummat Islam". Itulah sebabnya kenapa Panggilan Jihad sangat kami kagumi di Malaysia, karna jelas menggugah batin pendengarnya."

Dulu Gambus Namanya
Istilah "orkes irama padang pasir" baru muncul di Sumatera Utara sekitar tahun lima puluhan. Dulunya bernama "orkes gambus" dan selalu ditandai oleh peralatan oud yang bentuknya seperti rumah labi-labi, dan itulah gambus. Sedang yang disebut qasidah -- yang sekarang masih juga dikenal dan di Medan ada Perkumpulan Ahli Qasidah para pemainnya (atau penyanyinya) cuma mengandalkan suara, yang sering didahului oleh radat (solo) dan kemudian --diiringi suara koor. Tanpa menggunakan musik, baik berupa tamborin atau rebana, (TEMPO, 16 Nopember). Jadi agak berbeda dengan apa yang kini ditumbuhkan oleh qariah Hajjah Nurasiah Jamil dengan pasukannya Nasyid Nurul Asiah. Hajjah (yakni haji perempuan) yang masih nona ini, juara kedua MTQ Internasional di Kuala Lumpur tiga tahun lalu -- yang juga membuka perguruan mengaji Nurul Asiah di Simpang, Limun Medan -- sering tampil di TVRI Studio Medan Grup ini mengiringi nyanyian mereka dengan tamborin dan rebana kecil. Ini, semacam paduan suara yang mengandalkan dakwah Islam, seluruhnya terdiri dari gadis-gadis -- dan mereka baru saja kembali dari Jakarta memenuhi kontrak rekaman dari salah-satu perusahaan PH ibukota.


Pertumbuhan dan perkembangan orkes padang pasir di Sumatera Utara, terutama di Medan, dari hari ke hari makin memperlihatkan tampangnya. Selain tujuannya sudah jelas, untuk "dakwah", masing-masing grup berlomba menyempurnakan pemain dan peralatan.

Sehingga mereka tidak lagi sekedar sebuah orkes yang Cuma berbangga kalau bisa mendapat panggilan perhelatan atau kenduri. Tampang ini mulai diperlihatkan sejak munculnya El-Kawakib (Bintang-Bintang) yaitu sebuah gabungan orkes-orkes padang pasir yang ada di Medan terdiri dari berbagai nama, tetapi bila dibutuhkan bersedia bermain di bawah sebuah berdera. Sebagai pelopornya waktu itu, selain Haji Rivai sendiri jika muncul Ahmad Baqi dan Muhaddis Nasution. Yang dua terakhir ini selain mempunyai pasukan musik juga pencipta lagu dalam irama negeri Ibnu Saud, alias "model Mekah". El-Kawakib didirikan sejak tahun 1968. Tetapi entah apa sebabnya, sepak tedang orkes gabungan ini sekarang tidak lagi tumbuh segar. Aktivitasnya sudah tak terdengar lagi, sehingga orang kadang mengira Lidah mati. "Padahal cita-citanya sejak mulai tumbuh, seperti cerita Rivai sendiri, agar "para pemain mendalami musik "modern dan klasik" yang tidak saja berbau Arab. Ia diharapkan bisalah menjadi sebuah orkes simphoni nanti-nya. Tetapi cita-cita itu nyatanya kandas.

Asal Tumbuh
 

Menurut Djohan A. Nasution, Kepala Kabin Kesenian Perwakilan Departemen P dan K Sumatera Utara, orkes padang pasir di Sumatera-Utara yang terdaftar di arsipnya sampai sekarang 28 buah. Tetapi jumlah sebegitu sudah termasuk grup nasyid (nyanyian bersama model Nur Asiah Djamil tadi) hingga menjalar ke pelosok Tanjung Balai di Kabupaten Asahan. Grup nasyid tersebut di Medan dan sekitarnya saja ada 17 buah, seperti kata Muhaddis Nasution (52 tahun) kepada TEMPO minggu lalu Biarpun jumlahnya lumayan juga, namun tidak seluruhnya dapat dipegang berdasar kenyataan. Sebab ada "orkes" yang dibentuk asal jadi.

Yang dihitung aktif secara menyolok, terutama di TVRI Studio Medan atau di RRI Nusantara III Medan, boleh dihitung dengan jari sebelah. Sedang antara sebuah grup detigan grup lainnya naga-naganya tidak saling akur pula. Di samping ada ekspansi yang hanya sekedar ke Malaysia, di segi lain ada pula grup yang dipaksa tumbuh sembari mencaplok pemain dan orkes sana orkes sini. Para pemain ini bersedia bila mereka melihat harapan dapat menyeberang ke Malaysia itulah. Mennrut sinyalemen Djohan A. Nasution, "grup-grup seperti ini selain mengacau juga akan kita tertibkan, karena bukan tidak mungkin yang disebut "orkes" itu anggotanya terdiri dari dua prang saja. Yakni pengurusnya". Karena itu, kata Djohan lagi pada TEMPO. "sekarang kita lebih hati-hati lagi memberikan rekomendasi keberangkatan sebuah orkes ke Malaysia". Sikap memperketat ini dilakukan karena "bukan tidak mungkin grup ini bila sampai di sana nanti membuat onar saja. Yang malu kan kita", kata sutradara drama yang sekali-sekali gandrung menulis puisi ini.

Gadis Manis Yang Pintar
 

Terlepas dari soal itu, menarik bahwa barisan instrumen orkes-orkes padang pasir umumnya lebih banyak dipegang wanita. Lazimnya adalah gadis-gadis manis di balik tudung lingkup, yang selain pintar tarik suara juga mahir mengurut biola, menabuh bambam, meniup suling bambu atau memetik oud, gambus. Mulah di El-Surayya Putri, pemegang organ juga sang gadis. Mereka umumnya-tidak hanya cekatan memainkan satu jenis alat, malah lihai pula bertugas rangkap. Tetapi ciri yang menonjol dari orkes, padang pasir di Medan -- sekarang tidak kelihatan pada barisan biola yang tidak hanya cukup satu atau dua saja, malah ada yang sampai delapan atau sepuluh orang. Rupanya melihat barisan inilah mereka ingin menumbuhkan sebuah tampang, meniru orkes simphoni. Dan di orkes padang pasir, biola meng "hire of instrument " seperti kata Muchlis (26 tahun) kepada TEMPO. Tentu alat-alat lain, tambah pimpinan orkes Al Wathan yang gemar puisi dan pengagum Profesor Riyadh Sembathi (konduktor Kairo) serta pernah ikut dalam Orkes Simphoni Medan, "juga tidak diabaikan begitu saja". Misalnya, akordeon, selo, guitar pengiring, tamborin, botiggo, sun atau pun organ. Pendek kata, alat-alat musik yang menggantungkan nafasnya pada listrik bukan benda yang "haram" baginya. Al-Wathan sendiri kabarnya tidak berapa lama lagi akan mendapat alat yang unik juga. Mungkin merupakan sebuah orkes padang pasir satu-satunya yang ada di Indonesia yang bakal memilikinya. Menurut Ustad Ghazali Hasan -- ayah kandung Muchlis "tidak lama lagi Al-Wathan akan mendapat qanun", sebuah alat musik spesitik Timur Tengah (sejenis gitar lebih kering dan lincah suaranya dibanding gambus, tetapi berbeda dari mandolin. Sampai sekarang memang tidak ada toko-toko di sini yang menjual red). Alat tersebut dihadiahkan kedutaan Mesir di Jakarta. Sedang Muchlis sendiri pernah mendapat penghargaan atas prestasinya dari bekas Pangko-wilhan I Sumatera/Kalimantan Barat Letjen Widodo berupa "sebuah biola termahal buatan Jerman", katanya.

Bukan Tampang Melayu
 

Tampang orkes irama padang pasir di Medan jelas banyak bedanya dengan yang ada di Jawa, dan kelihatannya belum ada minat ingin meniru cara yang telah ditempuh grup Bintang-Bintang Ilahi pimpinan Agus Sunaryo atau Zamain Bersaudara yang membawakan "tap-dakwah" dengan iringan band pop. Grup-grup di' Medan, begitu jelas ingin menjadi duplikat Mesir atau Beirut, yang musiknya sebenarnya didengarkan diam-diam oleh berjuta-juta orang di Indonesia lewat radio setiap, jam 1.00 atau 2.00 malam waktu Indonesia. Tetapi ini bukan berarti cara "dakwah" ala Bimbo tidak mereka hargai.

Muchlis sendiri yang tampaknya menyenangi lagu-lagu klasik Barat dan menguasai not-balok malah memberi komentar begitu: "Musik Bimbo atau Koes Plus memiliki gaya tersendiri" kendati kedua pasukan ini dinilainya juga sebagai "lebih banyak meniru gaya ke Barat-baratan". Musik yang condong mencaplok nafas zafin sudah lama pupus di Medan, walaupun grup sejenis itu dulunya pernah dikenal sebagai musiknya orang Melayu Sumatera Timur dengan predikat "berkebuda-yaan Islam". Tetapi grub yang tumbuh sekarang (yaitu padang pasir), jelas pula tidak ingin disebut sebagai berwajah Melayu, seperti orkes gambus Hamzah Dolmat di Malaysia. Malah Dolmat sekarang ini, sudah pula mencampur baurkannya dengan irama dang-dut atau calti, walaupun diantara alat instrumennya tak ketinggalan dipakai oud atau piano. Dalain hal irama orkes padang pasir di Medan seperti Al-Wathan orientasinya tetap Arab atau Mesir seperti kata Muchlis.

Kalau selama ini ada yang beranggapan bahwa orkes padang pasir sama seperti orkes irama Melayu (dan memang membawakan lagu-lagu Melayu seperti Padang Pulau Kampai, Serampang Dua Belas dan sejenisnya), sudah terbantah. Campur-baur selama ini agaknya bisa dipisahkan. Karena sudah jelas pula ke mana arah kiblatnya, bukan?
Sumber: Majalah TEMPO Nomor: 40/IV/07 - 13 Desember 1974










Tanggapan:

2 komentar:

  1. Mengapa tidak diteruskan ke orkes simpony. Yang nada-ndanya seperti Hj Nur Asiah Jamil yang Full Islamy. Tahun 2009 kami terkenang lagu-lagu gambus tempoe doloe. Rinduuu banget. Saking rindunya kita-kita pada ngakses Yanni, group orkes simpony dari spanyol. Lihat di Youtube.com cari Yanni, heboh dan seru banget.

    BalasHapus
  2. kami kangen nur asiah jamil....suara dan musiknya berkualitas sekali..salam

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda. Saran dari Anda, membuat kami lebih tegar dalam meng-upload MP3 lainnya.

 
.....:: “KEHADIRAN BLOG INI SEJAK 12 OKTOBER 2009 DIHARAPKAN MENJADI PENYEJUK DAN IKUT MELESTARIKAN TEMBANG-TEMBANG KLASIK YANG GAUNGNYA SUDAH MULAI MEMUDAR”. Semoga ! :: ...........