o Ke Arah Industri Rekaman

Al-Wathan adalah Orkes irama padang pasir yang paling menonjol di Medan. Atas undangan Datuk Ashry akan bermain di Malaysia, menghibur para pekerja dan transmigran. Penampilan mereka ini menuai berbagai kritik.

SAMPAI hari ini, Al-Wathan (Tanah Air) satu-satunya orkes irama padang pasir yang paling menonjol di Medan Grup ini pula yang banyak memblat rekaman baik berupa kaset maupun PH. Hampir semua liriknya ditulis oleh Muchlis -- sedang penyanyinya Ummi Nadra, isteri pemimpin orkes tersebut. Remaco juga pernah menggarap rekaman Al-Wathan dan grup ini selama dua tahun sudah pula dikontrak King Musical Industry Coy Kuala Lumpur. Memang PH Al-Wathan lebih banyak beredar di Malaysia.

Awal tahun depan grup ini akan ke sana lagi, setelah dua tahun lalu membawa acara tunggal di MTQ Internasional. Keberangkatan itu atas undangan resmi Menteri Datuk Ashary dan biayanya ditanggung Kementerian Kemajuan Tanah, Galian danT ugas-tugas Khas Malaysia. "Al-Wathan begitu berpengaruh di Malaysia", kata Datuk Ashry yang syairnya berjudul Pejuang Sejati telah disusun lagunya oleh Muchlis dan akan dimasukkan dalam nomor rekaman di sana. "Sejak Al-Wathan bermain selama dua bulan, berkeliling Malaysia, banyak pula para musisi kami yang membentuk orkes meniru Al-Wathan. Dan keadaan itu makin berkembang terus", tambah Datuk Ashry. "Dalam kesempatan akan datang orkes ini akan bertugas juga menghibur para pekerja dan transmigran di beberapa tempat di Malaysia".

Bila Mati Lampu
Grup musik anak Ghazali Hasan ini memang tambah berkembang. Dan tentang kemampuan Muchlis? "Anak ini baik, berbakat", kata Lily Suheiry pimpinan Orkes Studio Medan. "Tetapi ayahnya nampaknya terlalu terburu membesar-besarkannya. Ini bisa berbahaya bagi Muchlis sendiri. Anak ini sebenarnya sekarang dalam keadaan ketakutan. Terlalu cepat diorbit". Apa kata Ghazali Hasan?" "Tetapi Muchlis jua terus belajar. Buktinya ada. Barangkali ia pula satu-satunya pemusik padang pasir yang bisa baca not-balok di Medan. Ada orang bilang belajar not itu tidak perlu. Sebab pemusik yang berpedoman pada not katanya tidak bisa bermain bila mati lampu".

Soalnya tentu bukan hanya mati lampu, tetapi sebelum mati angin. Kritik sudah mulai main bertimbun dilontarkan pada Muchlis Ada yang menganggap musik dan lirik yang diciptakannya datar saja, monoton. Tetapi dalam menyusun intro, pujian juga hebat meskipun rasa curiga juga tidak kurang. Sebab dalam hal irama, lagu-lagu Muchlis ada yang berbau Batak Karo atau beberapa campuran dari musik daerah yang ada. Toh bila untuk itu ia malah bisa membela diri, soal lain -- yakni soal dia tidak mau menyerahkan lagu-lagunya kepada grup lain juga dipergunjingkan. Termasuk juga keengganan Muchlis membawakan lagu orang lain dalam grupnya "Sepatutnya ia mau pula mengajar orkes-orkes lain, yang masih kecil-kecil", tambah Muhaddis, pemimpin orkes El-Suraiya yang mengagumi Muchlis "Sedang lagu-lagu karya Muchlis berat. Sulit dibawakan orkes lain. Alangkah baiknya kalau ia mau turun tangan dan membantu grup-grup yang sedang tumbuh" Munaddis agaknya mewakili fikiran yang menginginkan agar "kemajuan dicapai bersama-sama" Sebaliknya sikap Muchlis itu bukankah menunjukkan semangat persaingan -- yang boleh merupakan tanda bagi orkes gambus di Medan yang sedang memasuki dunia industri?

Sumber : Majalah TEMPO Edisi. 41/IV/14 - 20 Desember 1974

Tanggapan:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda. Saran dari Anda, membuat kami lebih tegar dalam meng-upload MP3 lainnya.

 
.....:: “KEHADIRAN BLOG INI SEJAK 12 OKTOBER 2009 DIHARAPKAN MENJADI PENYEJUK DAN IKUT MELESTARIKAN TEMBANG-TEMBANG KLASIK YANG GAUNGNYA SUDAH MULAI MEMUDAR”. Semoga ! :: ...........