Tampilkan postingan dengan label El-Surayya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label El-Surayya. Tampilkan semua postingan

Sekilas tentang Group Musik El Surayya

Seni musik dengan aliran qasidah atau dikenal juga dengan irama padang pasir sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Arab dan India. Group ini menghimpun diri dalam sebuah wadah atau kelompok orkes musik yakni Orkes Musik El Suraya dari Kota Medan (1977-1990). Seni musik sebagai suatu peristiwa sejarah yang memerlukan penjelasan sebagai upaya menelusuri hal-hal (kondisi) yang ada sebelum suatu peristiwa terjadi atau bagaimana situasi berkembang sehingga terjadinya suatu peristiwa. Untuk itu akan dijelaskan apakah musik dalam kelompok orkes khususnya orkes musik El Suraya yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan Arab dan India itu mengalami kemajuan atau bahkan kemunduran.
Orkes musik El Suraya adalah produk seni yang dibuat oleh seniman kota Medan sebagai wujud kreativitas. Meskipun karya seni musik aliran irama padang pasir ini awalnya tidak diperhitungkan sebagai kreativitas yang bisa menghasilkan keuntungan banyak tetapi akhirnya Orkes Musik El Suraya menjadi salah satu Orkes yang populer di kota Medan bahkan di Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain tahun 1977. Prestasi yang membanggakan bagi kota Medan, bahwa kota Medan memiliki sebuah Orkes musik yang diakui kemahirannya dalam segi aransemen, syair, dan lagu-lagunya dalam peta permusikan di Malaysia, dan Brunei Darussalam. Peran serta para seniman berbakat sangat berpengaruh pada perkembangan Orkes-Orkes Musik yang ada di kota Medan pada zamannya. Tanpa penanganan kreatif dari seniman itu sendiri, Orkes-Orkes Musik di kota Medan tidak akan mampu bersaing dengan Orkes-Orkes Musik lain yang berada diluar kota Medan ataupun di luar Negara Indonesia. Penyajian lagu yang sederhana dan lirik-lirik lagu yang baik membuat Orkes Musik El Suraya memiliki nilai plus dibanding Orkes-Orkes Musik diluar kota Medan dan diluar Indonesia. Walaupun situasi perkembangan musik saat itu sedang hangat-hangatnya melawan pengaruh dari budaya Barat. Hal ini menunjukkan bahwa Orkes Musik El Suraya tidak begitu mendapat perhatian dari pemerintah setempat dan kurangya kesadaran masyarakat untuk mempelajarinya. Di tahun 1990 Orkes Musik El Suraya mengalami kemunduran karena kemunculan alat musik keyboard yang serba praktis, murah dan serba bisa untuk menghibur suatu acara. Perlahan tapi pasti, Orkes Musik El Suraya semakin pudar di pasaran dan akhirnya kota Medan harus merelakan Orkes-Orkes Musik pusat (Jakarta) bangkit dan meraih kembali menjadi pusat dari peta permusikan Indonesia dan dunia industri musik. Sumber : repository.usu.ac.id

Oleh-oleh dari Negeri Jiran

Suatu ketika di bulan Ramadhan, saya bersama keluarga jalan-jalan di luar kota Kuala Lumpur tepatnya di daerah Chowkit dan singgah di sebuah pasar tradisional di sana. Secara tidak sengaja menemukan sebuah kaset “Orkes El-Suraya Medan” Pimpinan H. Ahmad Baqi Volume 6. Tanpa fikir panjang, kaset ini langsung saya bayar dengan harga RM. 7.90,-. Bahkan kami ingin membeli semua volume jika tersedia, namun sangat disayangkan hanya tinggal volume ini saja. Kaset ini merupakan produksi Malaysia yang diedarkan oleh:


Team Music Enterprise Bhd  
Jln. Bunga Tanjung 10 No. 66-1 Taman Muda Cheras, 56100 K.L.,  
Telp. 03-4920592, 4945243 Fax. 03-4938328. 
 
Volume 6 ini begitu berkesan bagi kami karena di dalamnya terdapat beberapa buah lagu seperti “Panggilan Ka’bah” yang mengisahkan tentang musibah pilu yang menimpa Calon Jama’ah Haji; jatuh di daerah Srilanka dalam perjalanan ke tanah suci. Lagu ini bergitu merasuk hati karena terkenang kembali peristiwa 20 tahun silam, di mana semua Calhaj meninggal dunia dalam keadaan syahid.

Demikian pula sebuah tembang yang berjudul “ Cita-cita”. Lagu ini begitu menyentuh kalbu dalam menyikapi hidup dan kehidupan dunia yang semakin menggila ini. Dalam volume ini juga terdapat sebuah tembang yang paling lama dinantikan oleh banyak penggemar, bahkan pernah secara khusus ada seorang pengemar yang menulis beberapa bait syair lagu ini dan meminta kami segera meng-uploadnya, namun baru sekarang dapat terwujud. Lagu tersebut berjudul “HIDUP MANUSIA”.

Selamat menikmati.............! dan sukses selalu.
Melalui postingan ini juga kami masih terus memohon maaf yang sebesar-besarnya karena masih banyak penggemar yang meminta di upload berbagai lagu, namun keterbatasan waktu mencari dan sulitnya menemukan kaset-kaset klasik tersebut mengakibatkan tidak terpenuhinya hasrat tersebut. Kami sangat menyadari bahwa masih banyak orang yang mencintai lagu-lagu berirama padang pasir.

Postingan ini juga disisipkan sebuah link yang kiranya bermanfaat yaitu "Asmaul Husna" hasil lantunan syahdu Kelompok Al-Arqam.

Sukses selalu untuk kita semua dan semoga tetap di jalan Allah.

Album Petuah Guru karya Prof. H. Ahmad Baqi

Album ini merupakan lagu-lagu lama yang dugubah dan disempurnakan musiknya setelah ayahanda Prof. H. Ahmad Baqy oleh anaknya. Album ini mengandung nasehat yang sangat berguna bagi kita semua dalam menjalani hidup dan kehidupan yang semakin tidak menentu sekarang ini. Yang mulia ayahanda Prof. H. Ahmad Baqy (allahummagh firlahu warhamhu) telah menulis syair-syair yang diangkat dalam album ini dengan begitu apik dan tentu mendatangkan banyak manfaat yang besar sekali bagi penikmat musik berirama padang pasir. Selamat mendowndload pada link berikut ini:

Side A

1. Petuah Guru Voc. Ummi Kalsum
2. Do’a dalam Irama Voc. Sasmidar Effendi
3. Menempuh Hidup Voc. Ummi Kalsum
4. Al-Ayyam Voc. Sasmidar Effendi
5. Mohon Ampunan Voc. Ummi Kalsum

Side B

1. Cintaku Voc. Ummi Kalsum
2. Jangan Tangisi Voc. Sasmidar Effendi
3. Pemberian Ikhlas Voc. Ummi Kalsum
5. Permohonan Voc. Ummi Kalsum
4. Selimut Putih Voc. Sasmidar Effendi


Semoga kepuasan selalu menyertai Anda para pecinta Musik Irama Padang Pasir

Sang Maestro Musik Gambus PROF. H. AHMAD BAQI

“Sahabat Biarlah daku pergi Berjalan menuju Pangkalan …” Entah siapa yang disebut sahabat oleh Almukarram Almarhum Prof. H Ahmad Baqi. Bait lagu “Tersiksa Dalam Kenangan” di atas merupakan lagu terakhir yang diciptakan maestro musik religi Sumatera Utara. Lagu itu diciptakan Ahmad Baqi, sesaat sebelum ia mengambil sajadahnya untuk shalat tahajud malam di awal Syawal tahun 1999.
Prof (HC) Datuk AHMAD BAQI lahir 17 Juli 1922 adalah putra dari Abdul Majid, Mufti Kesultanan Deli. Ahmad Baqi dikenal sebagai pemusik dan pencipta lagu-lagu Melayu berirama nasyid ala padang pasir. Sejak tahun 1940-an, setidaknya telah menciptakan bertumpuk lagu dalam partiturnya. Atikah Rahman (Istri A Wahab Dalimunthe) yang bergabung dalam orkes El-Suraya, menyanyikan lagu ‘Selimut Putih’ yang direkam kala itu dan sangat popular. Lagu tersebut merupakan arransemen langsung dari Ahmad Baqi dengan lirik Ustaz Haji Mohammad Ghazali Hasan. Tidak sedikit lagu yang masih terhafal bagi peminat irama nasyid, adalah karya cipta dari Ahmad Baqi, sebut saja lagu ‘Madah Terakhir’. “Sahabat, biarlah daku pergi, berjalan menuju Pangkalan …”, ini merupakan syair dari “Tersiksa Dalam Kenangan” yang diciptakan maestro musik religi Sumatera Utara ini. Lagu itu diciptakan Ahmad Baqi, sesaat sebelum ia mengambil sajadahnya untuk shalat tahajud malam di awal Syawal tahun 1999, menutup pengabdiannya untuk menghadap Sang Khalik tepatnya tanggal 20 Januari 1999.
Menjelang subuh di bulan Syawal kedua, Ahmad Baqi meminta anak-anaknya untuk mengantarkannya ke tempat tidur. Di peraduan itulah Ahmad Baqi menjumpai Sang Maha Indah. Anak-anaknya menemukan syair lagu lengkap dengan partiturnya itu, di atas meja kerja Ahmad Baqi, di pondoknya yang terletak di belakang rumah utama di jalan Garu I Medan itu. “Sepertinya ayah sudah tahu kalau ia akan berpulang,” kata Ahmad Syauqi Ahmad Baqi, anaknya yang keenam.
Lagu itu menceritakan tentang keinginan Ahmad Baqi yang masih terpendam dan belum tersalurkan sampai saat ini. “Yang bisa saya interpretasikan adalah keinginan dalam bidang seni,” kata Syauqi.
Memang, Ahmad Baqi lebih dihargai di negeri orang daripada negeri sendiri. Ahmad Baqi mendapat gelar Profesor Honoris Causa di bidang musik dari Pemerintah Malaysia tahun 1978. Gelar itu diberikan Datuk Asri, Menteri Besar Malaysia, setelah lagu “Selimut Putih”, yang bercerita tentang kematian dan membuat merinding seantero pelosok ranah Melayu, pertama kali dikeluarkan tahun 1977. Delapan belas tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, pemerintah Malaysia memberinya gelar Datuk yang diberi oleh Menteri Besar Sabah. Dua tahun sebelum wafat, ia diberi gelar ASDK (Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu) oleh kerajaan Sabah Malaysia (1997). Kali itu, Ahmad Baqi yang lahir pada 17 Juli 1922, sudah berumur 75 tahun. Di Brunei, Ahmad Baqi ditawari untuk tinggal di sana. Fasilitas apa pun akan diberikan pemerintah Brunei bila Ahmad Baqi mau menularkan ilmu dan berkreasi di negeri kaya minyak itu. Tawaran itu ditampik Ahmad Baqi dengan halus kepada Awang Haji Tua, seorang pengurus Kerajaan Brunei yang datang kepadanya pada 1982. Ahmad Baqi sendiri datang ke Brunei ketika Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah sedang berulang tahun yang ke-37. “Lebih baik hujan batu di negeri daripada hujan emas di negeri orang,” kata Ahmad Baqi waktu itu. Tidak ada satupun yang bisa mengukur kadar nasionalisme yang dimiliki Ahmad Baqi. Maestro musik padang pasir dunia asal Mesir, Ummi Kaltsum pun mengetahui sosok Ahmad Baqi. Pesuling itu juga meminta Ahmad Baqi untuk mengajar musik padang pasir dan pindah ke Malaysia. Ahmad Baqi menolak mandah. Tapi Mesir tetap memperhatikan Ahmad Baqi. Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir, memberinya hadiah berupa Ganun, alat musik petik khas Mesir yang mempunyai 78 senar. Ganun itu diserahkan di kampus Universitas Islam Sumatera Utara. Ganun itu dikuasai Ahmad Baqi hanya dalam waktu setahun. Itu di samping keahliannya memainkan dengan fasih alat musik lain seperti biola, gambus, dan akordion. Seribu Lagu
Ahmad Baqi sendiri dikatakan anaknya mengaku mempunyai patron dan akar musik padang pasir dari Mesir. Akar Mesir rupanya tidak mudah untuk dicerna oleh personil musik Ahmad Baqi sendiri. Zubeiruddin, pemain keyobard Ahmad Baqi, mengaku masih susah untuk membawakan lagu “Al Wathan (Negeri)”. “Musiknya asli diambil dari Mesir,” kata Zubeir.
Lagu-lagu Ahmad Baqi memang kental dengan unsur religi, terutama ruh Islam. Simaklah lirik “Selimut Putih” yang fenomenal itu, Bila Izrail datang memanggil Jasad terbujur di pembaringan Sekujur tubuh akan menggigil Sekujur badan akan kedinginan
Tapi, kontemplasi yang dilakukannya bukan hanya dari segi pemahaman terhadap kandungan Islam. Optimisme disertai pengendalian diri juga digariskan dalam lagu-lagunya. Dengarlah dalam lagu “Cita-cita” yang dipopulerkan Hasmidar (Asmidar, red) Darwis tahun 1970.
Kala berkayuh menuju pantai Kerap bersua ragam halangan Tidak semua hasrat kan sampai Kadang terbentur di tengah jalan … Yakinlah bila bulan telah sabit Esok lusa pasti purnama… Untuk soal nada, Ahmad Baqi sendiri dipengaruhi kuat oleh nada-nada lagu Al-Quran yang disebut qiraat. Lagu-lagu itu seperti Bayati, Tsiqah, Raas, Nahwan, Hijaj, Husaini, dan Zakarha. “Memang syarat utamanya kita mesti menguasai nada-nada lagu Alquran,” kata Sasmidar Effendi, vokalis El Surayya, yang hampir 30 tahun setia mengikuti orkes Ahmad Baqi. Ahmad Baqi merupakan seniman sejati. Untuk total di musik, ia mengambil pensiun dini dari jabatan Kepala Perbekalan PLN tahun 1975. Ia kemudian menceburkan diri di pondok musik yang sudah didirikannya sejak tahun 1970. Dua tahun sebelumnya, 1968, ia merangkum banyak grup-grup musik dan orkes melayu Padang Pasir di Medan, seperti Al Wardah, Al Wathan, En Nasiim, Syauthun Niil, dan lain-lain, dalam sebuah organisasi El Qawaqib. Lebih dari itu, ia sering memendam diri dalam pondok musiknya dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Dari pondok itu juga Ahmad Baqi menciptakan kurang lebih seribu lagu, yang baru 100 lagu yang sudah direkam dan diedarkan. “Lagu-lagu itu adalah anugerah,” kata Syauqi. Didikan Ulama Ia sendiri tidak dididik menjadi seorang seniman. Ayahnya, Abdul Majid, seorang guru agama Kesultanan Deli, mengarahkannya menjadi seorang ulama. Abdul Majid seorang ulama yang tegas. Ia tidak memperkenankan Ahmad Baqi menjadi pemusik. “Kalau Atok menemukan biola ayah, pasti dihancurkan,” kata Ahmad Syauqi. Entah sudah berapa biola yang telah dihancurkan ayah Ahmad Baqi. Selain alat musik, pantalon (celana panjang) yang sering dikenakan Ahmad Baqi pun tidak diperkenankan oleh Abdul Majid. “Supaya tidak ketahuan, ayah sering main biola dulu jauh ke kebun,” kata Syauqi. Tapi, didikan ulama itu justru membekas di syair-syair dan aliran musik yang dipilih Ahmad Baqi. Suatu hari ia berkonsultasi dengan seorang temannya, seorang ulama dan qari besar dari Sumut, H Azra’i Abdurrauf (Alm.). “Bagus juga kalau engkau ke sana (musik). Ada lagu-lagu yang bernafaskan Islam,” kata Azra’i kepadanya. Tak heran, bila pertemanannya dengan Azra’i ditambah ilmu dari ayahnya membuatnya fasih untuk menguasai qiraat Al-quran. Menurut Syauqi, kadang-kadang H Azra’i datang ke pondok Ahmad Baqi pada tengah-tengah malam. Mungkin, salah satu makna kata “sahabat” dalam goresan terakhirnya yang dikutip di awal tulisan ini, diperuntukkan bagi Azra’i. Ironisnya, cuma satu penghargaan yang diterima Ahmad Baqi dari negeri sendiri. Itu pun datangnya dari mendiang H Raja Inal Siregar, mantan gubernur Sumut. Gubernur yang dikenal agamis itu, memberinya penghargaan Pembina Seni dan Budaya Sumatera Utara sebagai Komponis pada 5 April 1998. Setelah itu, pada tahun 2000, dilaksanakan Malam Kenangan Ahmad Baqi di Hotel Garuda Plaza Medan. Konon, di malam itu pemerintah akan menyelenggarakan malam kenangan untuk Ahmad Baqi setiap tahunnya. Tapi, ternyata tidak. Agaknya, Ahmad Baqi semasih hidup seperti sudah sadar tentang nasib seniman. “Kami ini seniman, setelah dipusara baru dihargai. Kalau tidak anak aku, cucu aku yang menikmati,” kata Syauqi mengucapkan kata-kata Ahmad Baqi. “Seribu Lagu Lagi” Ya, seribu lagu. Itu lagu yang jadi, lengkap dengan partitur dan syair-syairnya. Tidak bisa dihitung berapa lagu yang sudah ditulis Ahmad Baqi ketika mulai mencipta lagu di sekitar tahun 1940-an. “Lagunya panjang-panjang, bisa 15 menit satu lagu,” kata Ahmad Syauqi, anak Ahmad Baqi yang menyimpan harta warisan Ahmad Baqi itu. Bagi lidah pop dan dangdut, umumnya lagu-lagu Ahmad Baqi tidak gampang untuk dibawakan. “Cengkok atau dalam bahasa kita, greneknya, susah diikuti,” kata Syauqi lagi. Syarat pertamanya, adalah menguasai “hawa”. Ini istilah yang diberikan Ahmad Baqi menunjuk pada nada-nada lagu Alquran yang lazim disebut qiraat. “Biasanya seminggu sekali mendiang mendapat lagu baru, kita disuruh ke rumah dan langsung belagu,” kata Sasmidar Effendi, salah satu vokalis yang sudah 30 tahun di orkes Ahmad Baqi. Menurut Sasmidar, dalam berlatih lagu, Ahmad Baqi merupakan orang yang keras. “Tidak bisa main-main. Kalau tidak pas, kupingku sakit, katanya,” tutur Sasmidar lagi. Tapi, kalau sudah menguasai “hawa” itu, biasanya lagu-lagu Ahmad Baqi mudah dipahami. “Biasanya satu hari sudah dapat,” kata Mahanum, seorang vokalis orkes Ahmad Baqi juga. “Hawa” ini berbeda dengan lagu-lagu dangdut maupun nasyid zaman sekarang. “Kalau seperti Raihan, itu cenderung ke pop,” kata Mahanum sambil mencontohkan dendang lagu Raihan dan Ahmad Baqi. Riwayat merekam lagu-lagu Ahmad Baqi sudah lama. Dimulai ketika akhir dekade 1960-an, lagu “Selimut Putih” direkam di atas piringan hitam di Malaysia, dan mulai diperdengarkan di Indonesia melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Lagu itu langsung meledak, terutama di daerah ranah Melayu, seperti Malaysia dan Sumatera Utara (dulu Sumatera Timur).
Lagu itu keluaran formasi pertama dari Orkes Ahmad Baqi. Pelantunnya langsung terkenal, seperti Nur Asiyah Jamil, M Nuh, dan M Thahir. Di tahun 1970-an, formasi Ahmad Baqi sudah berubah yang berisi nama-nama Asmidar Darwis, Atikah Rahman, M Thahir, dan Ruqiah Zein. Di formasi ini, melejit lagu seperti “Cita-cita”. Formasi ini cepat berkurang. Kebanyakan, personilnya dilirik orang ketika sedang manggung. Seperti Ruqiah Zein yang mendapat jodoh ketika manggung di Malaysia dan Atika Rahman yang dipinang oleh Ketua DPRD Sumut sekarang, H Abdul Wahab Dalimunthe. Asmidar Darwis pun tak luput dipinang orang.
Formasi terakhir berisi 14 personil, yaitu Sasmidar Effendi (vokal/biola), Khadijah Lubis (vokal/tamburin), Mahanum (vokal/biola), Wahyuni (vokal/biola), Zuberuddin (keyboard), Syahril Sa’I (drum), Ramli (Bass), Ahmad Ramadhan (gendang bonggo), Efan Edi (gitar), Ahmad Fauzi (tamburin), Ruslan Nasution (biola), Hj Faiziah Hanim (biola), Ahmad Syauqi, dan seorang vokalis muda Ifnifar Hasni.
Selain mereka, entah siapa lagi penerus seribu lagu Ahmad Baqi. * * * Tulisan ini dibuat pada Desember 2005 lalu. Dikutip seluruhnya dari: http://nirwansyahputra.wordpress.com/2008/02/17/seribu-lagu-ahmad-baqi Kami mohon ma'af kepada yang empunya tulisan karena rasa cinta yang besar kami kepada Almukarram (Ayahanda) Prof. H. Ahmad Baqi ---ALLAHUMMAGH FIRLAHU WARHAMHU---, beberapa koreksi terpaksa kami lakukan terutama pada nama Asmidar Darwis dan Nur Asiah Djamil.
YA ALLAH DARI LUBUK HATI INI YANG PALING DALAM, TERHANTAR SEBAIT DO'A KEPADA ORANG TUA KAMI YANG TELAH BERJASA IKUT MENDAKWAHKAN AGAMA-MU "TEMPATKANLAH BELIAU DI SISI-MU, BERILAH SULUH DI KUBURNYA, DAN AMPUNAN DARI MU SANGAT KAMI DAMBAKAN" Amin Ya Rabbal 'Alamin

Album Ramadhan Karya H. Ahmad Baqi

Pada tanggal 23 Oktober 2009 kami telah mengupload sebuah album yang sangat monumental karya Almukarram H. Ahmad Baqi dengan lagu-lagu seperti Ramadhan, Panggilan Jihad, Iradat Tuhan dan lain-lain, namun beberapa waktu yang lalu kami menemukan album yang sama namun lebih jernih. Oleh karenanya, dalam bulan suci Ramadhan ini, kami menguploadnya kembali untuk Anda. Selamat menikmati.

1. Ramadhan
2. Panggilan Jihad
3. Kasih Ibu
4. Wahai Mawar
5. Hanya Kenangan    Kami mohon maaf, link download lagu ini terpaksa kami hilangkan sementara waktu, karena ternyata lagu ini tidak lengkap. Insya Allah nanti akan ditampilkan kembali jika sudah kami perbaiki. Harap maklum, daripada kecewa lebih baik dihilangkan link nya dulu sementara waktu. Terima kasih bagi yang telah memberitahukan masalah ini kepada kami.
6. Iradat Tuhan
7. Renungan Masa
8. Ahbabina
9. Mali Ila Ahadin

Saat ini kami sedang dalam proses editing album Asmidar Darwis, Insya Allah kalau tidak ada aral melintang, dalam pekan ini dapat kami upload sebagian. Terima kasih atas kunjungan Anda

Fathia El Surayya

Fathia El Surayya adalah sebuah group musik Irama Padang Pasir yang berlokasi di kota Medan. Group ini dibentuk oleh salah seorang anak H. Ahmad Baqi yang bernama Syamsul. Lagu-lagu yang kami tampilkan kali ini semuanya merupakan ciptaan H. Ahmad Baqi yang dirilies kembali dengan nuansa musik modern, dengan menampilkan beberapa orang biduan-biduanita seperti Nazimah AR, Ummi Kalsum, Zakiah Effendi dan Syamsul A. Baqi.
  1. Bila Ingin Jaya Vocal : Ummi Kalsum&Nazimah AR
  2. Cita-Cita Vocal : Ummi Kalsum
  3. Do'a dan Air Mata Vocal : Ummi Kalsum
  4. Mencari Bahagia Vocal : Nazimah AR&Syamsul A.Baqi
  5. Pusara Kasih Vocal : Nazimah AR
  6. Sadarlah Vocal : Zakiah Effendi
  7. Takdir Vocal : Nazimah AR
  8. Usah Di Kenang Vocal : Ummi Kalsum

MP3_Irama Padang Pasir

Kami hadirkan sebuah album hasil gubahan dengan musik lebih modern. Mohon maaf bukan penyanyi asli semua, namun hanya ini yang dapat kami hadirkan di sini. 

1-Ramadhan
2-Panggilan Jihad
3-Kasih Ibu
4-Wahai Mawar
5-Hanya Kenangan
6-Iradat Tuhan
7-Renungan Masa
8-Ahbabina
9-Mali Ila Ahadin

TERIMA KASIH ATAS KESEMPATAN ANDA BERKUNJUNG KE BLOG INI, SEMOGA MENDAPAT KEPUASAN.......

Ahmad Baqi Vol. 5

Ini beberapa lagu ciptaan Ahmad Baqi yang dilantunkan oleh El Suraya Group dan merupakan album volume 5. Album ini sepertinya asli, sebab dari bentuk kaset dan sampulnya terkesan jadul. Nikmati saja dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

1. Madah Terakhir
2. Pesan dalam Irama
3. Petuah
4. Pinta dan Doa
5. Selamat Berpisah
6. Selimut Putih
7. Sesal dan Kesal
8. Usah Dikenang

Mp3 Ciptaan Ahmad Baqi

Ahmad Baqi adalah salah seorang penciptaan lagu-lagu berirama padang pasir dan umumnya dibawakan oleh El Surayya Grouf dan Al-Barkah Group pimpinan Hj. Nur Asiah Djamil. Berikut ini adalah bebepaa lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh El Suraya dan dirilis ulang oleh anaknya.

1. Subhanalllah
2. Permohonan
3. Merantau
4. Jangan Durhaka
5. Haryarni
6. Bunda
7. Kata Hati

o Rukiah Zain (El Surayya)

Rukiah Zain adalah seorang bidwanita dalam El Suraya Group Medan. Pengen mendengar kesyahduan suaranya dalam mendendangkan lagu-lagu Irama Padang Pasir, silahkan D O W N L O A D di Blog ini ! 

Rukiah Zain - Madah Terakhir
Rukiah Zain-Fatwa Orang Tua
Rukiah Zain-Akhir Hidup
Rukiah Zain-Di Suatu Masa
Rukiah Zain-Beduk Dan Azan

Saran dari Anda, membuat blog ini tambah lebih baik dan bermanfaat.

o Mp3 El Surayya

El Surayya adalah sebuah Group musik Irama Padang Pasir di era 70-an yang berdomisili di kota Medan Sumatera Utara. Syair-syair yang mereka bawakan mengandung hikmah dan pengajaran serta pengetahuan berharga bagi kita dalam menjalankan syari'at agama Islam sekaligus menjadi hiburan penyejuk hati. Anda Dapat mendownload Mp3 Irama Padang Pasir El-Surayya melalui Blogspot ini.

Melalui blog ini, kami mencoba menghadirkan kepada Anda para penikmat musik Irama Padang Pasir yang tentunya harus didahului dengan mendowload file MP3 nya berikut ini: 

1. PERJUANGAN
2. DI UJUNG MALAM
3. JASA IBUNDA
4. SUBUH
5. MAULID NABI
6. NASEHAT-1
7. NASEHAT
8. IBADAH HAJI

1. Orkes El Suraya - Selamat Datang
2. Orkes El Suraya - Pemuda Islam
3. Orkes El Suraya - Kasih Ibu Bapa
4. Orkes El Suraya - Tak Mungkin Kembali
5. Orkes El Suraya - Panggilan Kaabah
6. Orkes El Suraya - Doa Dalam Irama
7. Orkes El Suraya - Selimut Putih
8. Orkes El Suraya - Pusara Kasih
9. Orkes El Suraya - Mohon Dan Pinta
10. Orkes El Suraya - Anak Derhaka
11. Orkes El Suraya - Harta Dunia


BACA FILE TERKAIT: 1. Musik Dakwah 2. Irama Padang Pasir