Masjid Aqsha di Palestina

Masjid ini pernah disinggah oleh Nabi SAW pada malam Isra' Mi'raj

Prof. H. Ahmad Baqi

Sang Maestro Musik Gambus Legendaris Dari Medan

Dra. Hajjah Nur Asiah Djamil dan Kawan-kawan

Seorang penyanyi dan pencipta lagu Qasidah yang sangat terkenal dari Medan.

Grup Music El-Surayya Medan

Group Musik El-Surayya Medan telah mengakomudir hampir semua lagu ciptaan Ahmad Baqi

Prof. H. Ahmad Baqi

Beliau telah menciptakan cukup banyak lagu dan partiturnya, bahkan ada yang belum sempat dinyanyikan sampai beliau meninggal dunia

Dra. Hajjah Nur Asiah Djamil dan kawan-kawan

Penyanyi dan pencipta lagu qasidah legendaris ini sampai sekarang masih aktif berdakwah dan membimbing

Orker Gambus Nasida Ria

Grup musik gambus Nasida Ria pernah merajai jenis musik ini terutama di Pulau Jawa dan gaungnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara

Masjidin Nabawi di Madinah Al-Munawwarah

Masjid ini awalnya dibangun pada masa Rasulullah SAW dan terus mengalami renovasi masa-masa sesudahnya

Masjidil Haram di Mekkah Al-Mukarramah

Kesinilah kesatuan hadap umat Islam di seluruh dunia ketika melaksanakan Shalat.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid ini adalah saksi bisu keganasan Gelombang Tsunami 26 Desember 2004.

MP3_Irama Padang Pasir

Kami hadirkan sebuah album hasil gubahan dengan musik lebih modern. Mohon maaf bukan penyanyi asli semua, namun hanya ini yang dapat kami hadirkan di sini. 

NO MP3 IRAMA PADANG PASIR ORKES EL-SURAYYA ACTION
01 El-Surayya - RAMADHAN Download
02
El-Surayya - RENUNGKANLAH
Download
03 El-Surayya - IRADAT TUHAN Download
04 El-Surayya - AHBABINA Download
05 El-Surayya - KASIHMU IBU Download

TERIMA KASIH ATAS KESEMPATAN ANDA BERKUNJUNG KE BLOG INI, SEMOGA MENDAPAT KEPUASAN.......

Cut Intan Ibnoe Arhas

Cut Intan Ibnoe Arhas adalah salah seorang penyanyi pemula yang baru memulai kariernya di blantika musik Irama Padang Pasir etnis Aceh, namun baru keluar satu album, yang bersangkutan keburu menghadap Yang Maha Kuasa (meninggal dunia) dalam musibah gempa/tsunami Aceh 24 Desember 2004 (allahummaghfir laha warham ha). Sebelum berpulang ke Rahmatullah, Cut Intan, sedang menempuh pendidikan di kelas III Madrasah Aliyah Negeri Banda Aceh. Putri bungsu dari tiga bersaudara ini, mewarisi bakat seni dari ayahnya IBNOE ARHAS (penyanyi/pencipta lagu Irama Padang Pasir dan Dangdut Aceh era 80-an) dan darah seni ibunya CUT ROSMAWAR (penyanyi dangdut/qasidah Aceh era 80-an). Dan lagu-lagu yang kami hadirkan ini merupakan ciptaan ayahnya sendiri, shang maestro Irama Padang Pasir Aceh IBNOE ARHAS.

01. A1-PANGGILAN TUHAN.MP3 
02. A2-SABEE LAM BALA.MP3 
03. A3-TEUMANYONG.MP3 
04. A4-ANEUK NYANGMALANG.MP3 
05. A5-PEUREUNOE BEUT.MP3 
06. B1-BULEUN RAMADHAN.MP3 
07. B2-UROE RAYA.MP3 
08. B3-RUKON KEULIMONG.MP3 
09. B4-ANEUK NEULAYAN.MP3 
10. B5-RUKON ISLAM.MP3 
11. cUT rOS maWAR_hudep manusia.mp3

Mp3 Ciptaan Ahmad Baqi_Release Ulang

Lagu-lagu yang tampilkan kali ini adalah merupakan lagu-lagu hasil ciptaan Ahmad Baqi dan telah direlease ulang oleh anaknya. Memang alat musik yang digunakan sudah lebih modern. Selamat menikmati ! 

NO
MP3 CIPTAAN AHMAD BAQI_RELEASE ULANG
ACTION
01 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - B u n d a Download
02
El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Haryarni
Download
03 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Jangan Durhaka Download
04 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Kata Hati Download
05 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Merantau Download
06 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Permohonan Download
07 El-Surayya Ahmad Baqi Medan - Subhanalllah Download

Ahmad Baqi Vol. 5

Ini beberapa lagu ciptaan Ahmad Baqi yang dilantunkan oleh El Suraya Group dan merupakan album volume 5. Album ini sepertinya asli, sebab dari bentuk kaset dan sampulnya terkesan jadul. Nikmati saja dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

1. MADAH TERAKHIR
2. PESAN DALAM IRAMA
3. PETUAH
4. PINTA dan DOA
5. SELAMAT BERPISAH
6. SELIMUT_PUTIH
7. KESAL
8. USAH DIKENANG

Qasidah_Titi Said

Titi Said adalah seorang penyanyi legendaris di belantika musik-musik berirama melayu. Mp3 yang kami hadirkan kali ini adalah tembangnya dengan irama qasidah modern.  

01. Aini 
02. Ayah Ibu 
03. Era Reformasi 
04. Fitnah 
05. Indung-indung 
06. Introspeksi 
07. Jangan Bersenang-senang 
08. Kuasa Allah 
09. Mari Oh Mari 
10. Muhammad Al Amin 
11. P H K 
12. Voltase Iman 

-------------------- terima kasih atas kunjungan anda -------------------

Hj. Nur Asiah Djamil

Biduanita yang meroket namanya di belantika musik qasidahan di tahun 80-an banyak sekali menghasilkan album, baik yang diiringin group musik Al-Barkah, Al-Wathan maupun El-Surayya. Siapa lagi kalau bukan Hajjah Nur Asiah Djamil. Kami hadirkan kembali tembang-tembang "mangat" alias enak satu kaset lagu-lagu yang dibawakan bersama groupnya. Kesyahduan lantuanan suaranya membuat kami tergugah meng-upload lagu-lagu ini dan memberikan sharing dowload gratis kepada Anda.
   
1. Ibda' Binafsik  
2. Demi Masa  
3. Fajar Menyinsing 
 4. Menuntut Ilmu  
5. Babussalam 
 6. Ash-Shalatu 'alan Nabi 
7. Lebah  
8. Adikku Sayang

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA ............!

Mp3 Asmidar Darwis

Asmidar Darwis adalah salah seorang penyanyi lagu-lagu berirama gambus dan Melayu. Biasanya beliau berduet dengan saudaranya sendiri Zul Darwis. Penyanyi asal Sumatera Barat ini telah mengukir sejarah lagu-lagu Melayu dan Gambus dan merupakan salah seorang yang meniti karier menyanyi dari bawah. Beliau hadir di belantika musik gambus berbarengan dengan menguat Gruop Al-Barkah pimpinan Hj. Nur Asiah Djamil dan El Suraya Group pimpinan Ahmad Baqi.
Kali ini kami hadirkan beberapa tembang Gambus yang dinyanyikan Asmidar Darwis. 


NO
PENYANYI / JUDUL LAGU
ACTION
1
Asmidar Darwis_Doa dan Air Mata
2
Asmidar Darwis_Kasih Bunda
3
Asmidar Darwis_Kepiluan
4
Asmidar Darwis_Maulid Nabi
5
Asmidar Darwis_Nelayan
6
Asmidar Darwis_Pemuda
7
Asmidar Darwis_Yatim Piatu


Terima kasih atas kunjungan Anda ! Semoga kita dapat mengambil manfaatnya.

Mp3 Ciptaan Ahmad Baqi

Ahmad Baqi adalah salah seorang penciptaan lagu-lagu berirama padang pasir dan umumnya dibawakan oleh El Surayya Grouf dan Al-Barkah Group pimpinan Hj. Nur Asiah Djamil. Berikut ini adalah bebepaa lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh El Suraya dan dirilis ulang oleh anaknya.

Terima kasih atas kunjungan Anda !

Alat Musik Suling

Seruling atau sering juga disebut "suling" merupakan sejenis alat musik yang ditiup dan terbuat dari bambu. Namun kini seruling modern ada yang dibuat dari logam aluminium dan plastik. Cara memainkannya adalah dengan meniup. Akan tetapi untuk mendapatkan bunyi yang baik dan benar sesuai dengan tangga nada, haruslah dipelajari dan disesuaikan dengan jenis musik yang dimainkan. Dalam memainkan lagu dengan irama Padang Pasir (gambus), lagu-lagu berirama Dangdut klasik dan Irama Melayu Deli, keberadaan alat musik ini hampir tidak bisa dipisahkan. Sumber foto Suling Klasik : malaysiana.pnm.my Sumber foto Suling Modern : http://ms.wikipedia.org

Alat Musik Biola

Biola adalah sebuah alat musik gesek berdawai yang memiliki empat senar yang disetel berbeda satu sama lain dengan interval sempurna kelima. Nada yang paling rendah adalah nada G.

Biola memiliki nada tertinggi di antara keluarga biola, yaitu viola dan cello. Alat musik gesek berdawai yang lainnya, bas, secara teknis masuk ke dalam keluarga viol. Kertas musik untuk biola hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G.

Sebuah nama yang lazim dipakai untuk biola ialah fiddle, dan biola seringkali disebut fiddle jika digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional. Di dalam bahasa Indonesia, orang yang memainkan biola biasa hanya disebut pemain biola, belum ada istilah khusus untuk hal tersebut. Orang yang membuat atau membetulkan alat musik berdawai, termasuk biola, disebut luthier. 

Sebuah biola dibagi menjadi beberapa bagian: badan biola, leher biola, jembatan biola, batang penghubung, senar, dan beberapa macam perangkat pembantu. Perangkat pembantu tersebut antara lain pasak penyetel untuk setiap senar, ekor biola untuk menahan senar, pin dan tali untuk menahan ekor biola, beberapa penyetel tambahan pada ekor biola bila diperlukan, dan sebuah penyangga dagu. (Penyangga dagu tersebut dapat tergabung dengan ekor biola ataupun dipasang di sebelah kirinya.) Badan biola terdiri atas dua papan suara yang melengkung, disatukan oleh kayu yang disebut iga biola. Biola dilem menggunakan lem kulit binatang, atau resin. Iga biola biasanya terdiri dari bagian atas keempat sudut, bagian bawah, dan garis tipis yang disebut lapisan dalam, yang membantu mempertahankan lekukan pada iga biola, dan memperluas permukaan untuk pengeleman. Badan biola menyerupai bentuk jam pasir. Dua buah lekukan menyerupai huruf C pada kedua sisi samping biola dan memberikan ruang bagi busur biola untuk bergerak. Umumnya bagian biola dibuat dari kayu spruce, sejenis kayu cemara, yang dipahat sehingga memiliki bentuk yang simetris dan diberi dua lubang suara (atau lubang-F, diberi nama demikian karena bentuknya). Lubang suara tersebut mempengaruhi kelenturan suara biola, dan juga sebagai "lubang nafas" biola pada saat udara beresonasi di dalamnya. Pada pinggir permukaan ini, dibentuk suatu lekukan garis yang disebut purfling. Tujuannya ialah menghalangi retakan yang berasal dari pinggir. Sebuah balok kayu kecil dipasang di dalam permukaan atas biola, sejajar dengan jembatan biola di atasnya, untuk menambah massa serta kekerasan permukaan atas biola. Bagian-bagian biola dibuat dari kayu mapel, biasa dipilih yang memiliki alur sama. Bagian belakang biola umumnya dibuat dari kayu utuh yang dipahat secara simetris. Bagian ini sering pula dibentuk purfling walaupun dalam hal ini tidak seberapa berpengaruh terhadap biola itu sendiri. Beberapa biola antik dibubuhi tulisan tangan atau diberi lapisan cat sebagai ganti purfling pada bagian belakang biola. Sebuah tonjolan setengah lingkaran kecil yang terdapat pada bagian yang dekat dengan leher biola memberikan permukaan tambahan pada saat pengeleman. Tonjolan tersebut penting untuk sambungan antara leher dan badan biola, namun pada saat mengukur panjang biola bagian ini tidak dihiraukan. Leher biola biasanya terbuat dari kayu mapel yang setipe dengan bagian belakang dan samping badan biola. Pada leher biola terdapat papan jari yang dibuat dari kayu eboni atau kayu lain yang dicat hitam. Kayu eboni sering dipilih oleh pengrajin biola karena sifatnya yang keras, menawan, dan tahan lama. Beberapa biola yang sangat tua menggunakan kayu mapel untuk papan jarinya, dan dipernis dengan kayu eboni. Pada ujung papan jari yang atas terdapat segaris kayu yang menonjol, biasa kayu eboni atau gading, yang disebut sadel atas. Tonjolan ini digunakan untuk menahan senar, sama seperti jembatan biola digunakan untuk hal yang sama di bagian badan biola. Sumber : www.id.wikipedia.org. Kredit foto : malaysiana.pnm.my

Alat Musik Rebana

Rebana adalah sejenis gendang satu muka yang digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian rakyat, disebut juga ‘Adai-Adai‘ oleh masyarakat Melayu berketurunan Brunei di daerah Papar, Beaufort dan Sipitang.

Rebana dipukul dengan satu tangan seperti juga teknik yang digunakan untuk rebana yang terdapat dalam ensemble musik sinkretik yang lain. Pukulan rebana serta nyanyian Adai-Adai diadakan untuk merayakan pesta atau menyambut tamu kehormatan. Bagi suku-bangsa Bajau, terdapat juga sejenis rebana (gendang panjang) yang mempunyai satu muka.

Gendang itu diposisikan tegak di atas lantai dan dipukul dengan tangan.Gendang ini biasanya digunakan dalam kesenian musik ‘Bertitik‘ untuk memainkan pola pukulan seperti irama ‘Kedidi‘, ‘Ayas‘ dan ‘Tidong‘. Di kalangan masyarakat Brunei terdapat juga sejenis gendang kecil yang disebut ‘gendang labik‘ dan ‘dombak‘, yaitu sejenis gendang satu muka. Sedangkan bagi masyarakat Brunei yang berdomisili di Sabah, gendang rebana sering juga disebut ‘rempana‘. 

Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadrah. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. 

Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama. Ada beberapa jenis rebana, yaitu: 
  1. Rebana besar Rebana besar adalah rebana satu muka yang terbesar yang pernah ada dalam musik masyarakat Melayu. Kayu atau potted type dibuat dari kayu yang keras seperti merbau (sympetelandra Permukaannya yang berukuran dalam 80 cm - 100 cm pada garis lintang, diregangkan dengan kulit kerbau yang berfungsi untuk menimbulkan suara, disebut juga sounding body. Rotan yang dibelah dua digunakan sebagai bahan ekustik utama bagi proses penegangan kulit dan diperkokoh dengan kayu-kayu yang juga berfungsi sebagai alat peneyeimbang nada. Lukisan yang bermotifkan alam seperti bunga-bungaan diwarnai dengan berbagai warna sebagai simbol serta kehalusan estetikanya. Dalam konteks persembahan (pertunjukan), rebana dipukul secara langsung dengan tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul, untuk mengiringi ‘nyanyian zikir, yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. Nyanyian zikir Rebana Besar disampaikan secara chorus, dengan paduan suara oleh pemain rebana yang biasanya beranggotakan tiga orang pemain dalam setiap kelompok. Persembahan Rebana Besar sering diadakan untuk memeriahkan pesta perkawinan dan juga menyambut hari besar bagi masyarakat di Kelantan, Malaysia. Namun begitu, di negeri Kelantan terdapat juga sejenis musik rakyat yang menggunakan peralatan musik Rebana Besar. Istilah ini disebut Rebana Ubi. Secara fisik rebana ubi mempunyai bentuk yang sama seperti rebana besar, tetapi berukuran lebih kecil dan menggunakan bahan akustik yang sama dalam proses pembuatannya dengan pembuatan rebana besar. Bingkai gendangnya mempunyai lubang yang berbentuk seperti pasu. Tetapi permukaan besarnya telah ditutup dengan kulit lembu sebagai membrannya atau bahan bunyi. Dalam konteks persembahan (pertunjukan), rebana ubi dipukul dengan tangan ataupun alat pemukul yang disampul dengan bahan lembut seperti tali, getah dan sebagainya. Persembahan rebana ubi diadakan untuk memeriahkan pesta perkawinan atau pertandingan. Dalam acara pertandingan misalnya mereka akan memainkan lagu-lagu yang diinspirasikan oleh repertoir musik Wayang Kulit Kelantan serta lagu-lagu wajib yang lain seperti lagu ‘Masuk Bangsal‘ dan sebagainya. Setiap kelompok beranggotakan enam orang pemain dan tiga buah rebana. 
  2. Rebana mangkuk Rebana Mangkuk juga termasuk dalam jenis gendang yang hanya memiliki satu membran tempat untuk dipukul. Bingkainya dibuat dari mangkuk yang digunakan untuk mengumpul susu getah. biasanya mangkuk-mangkuk tersebut dibuat dari tanah Hat. Pada permukaannya ditutup dengan beberapa lapisan getah sebagai bahan bunyi menggunakan kaedah siratan rotan dan bahan pelekat. Untuk menegangkan lapisan getah itu tadi, dua keping berbaji kayu dimasukkan secara bertentangan pada bahagian bawah alat berkenaan kemudian diketatkan. Berbaji kayu ini adalah berfungsi sebagai alat tala kepada rebana berkenaan seperti juga yang digunakan untuk alat rebana yang lain seperti Rebana Ubi dan sebagainya. Rebana Mangkuk digunakan untuk memainkan lagu-Iagu seperti dalam repertoire Rebana Ubi untuk musik hiburan bagi komunitas setempat. Rebana ini dipukul dengan sebatang kayu khusus yang ditutupi dengan getah. Rebana Mangkuk dianggap sebagai alat musik eksperimental yang masukkan ke dalam kategoti rebana tradisional yang lain. 

Sumber Teks : http://melayuonline.com/ Kredit foto : zanesville.ohio.edu

Alat Musik Akordeon

Akordeon merupakan alat musik sejenis organ. Alat musik ini relatif kecil, dan dimainkan dengan cara digantungkan di leher. Pemusik memainkan tombol-tombol akord dengan jari-jari tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Pada saat dimainkan, akordeon didorong dan ditarik untuk menggerakkan udara di dalamnya. Pergerakan udara ini disalurkan ke lidah akordeon sehingga menimbulkan bunyi. Alat musik ini, digunakan untuk mengiringi musik berirama padang pasir seperti Group Musik El Surayya. Sumber : Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid I, (Jakarta, PT. Cipta Adi Pustaka: 1988) Kredit foto : encyklopedia.interia.pl

Alat Musik Gambus

Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan atau acara syukuran.Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan atau acara syukuran.

Alat musik ini identik dengan nyanyian yang bernafaskan Islam. Dalam mengiringi penyanyi, alat musik ini juga diiringi dengan alat musik lain, seperti marwas untuk memperindah irama nyanyian. Bentuknya yang unik seperti bentuk buah labu siam atau labu air (My) menjadikannya mudah dikenal. Alat musik gambus juga dianggap penting dalam nyanyian Ghazal yang berasal dari Timur Tengah pada masa kesultanan Malaka. Kedatangan pedagang-pedagang Timur Tengah pada zaman Kesultanan Melayu Melaka telah membawa budaya masyarakat mereka dan memperkenalkannya kepada masyarakat di Tanah Melayu.

Ada beberapa jenis gambus yang dapat diperoleh di mana saja, terutama di kawasan tanah Melayu. Jenis-jenis tersebut, seperti gambus yang hanya mempunyai tiga senar dan ada juga gambus yang mempunyai 12 senar. Jumlah senar biasanya terpulang pada yang memainkannya. Selain dimainkan secara solo, alat musik ini dapat juga dimainkan secara berkelompok. Alat musik gambus dapat dimainkan di dalam perkumpulan musik-musik tradisional atau modern. Bila dikolaborasi antara alat-alat musik tradisional dengan modern akan menghasilkan irama yang merdu serta mempunyai keunikan tersendiri.

Cara pembuatan gambus tidak jauh berbeda dengan pembuatan kompang. Perbedaan itu terletak dari segi bentuknya saja. Gambus mempunyai ujung tempat menyetel senar, sementara kompang hanya dibuat bulat, lalu ditutupi dengan kulit sebagai membrannya. Gambus dibuat dari batang pohon dari jenis yang ringan seperti angsana (pterocarpus indicus) atau nibung (oncosperma tigillaria) yang dipilih. Pohon yang sudah ditebang, kemudian dipotong menurut ukuran yang telah tentukan. Selanjutnya pohon itu dilubangi di bagian tengahnya sehingga terbentuk seperti lubang yang dalam. Bagian ini dikenal sebagai bakal.

Bakal diperhalus dengan menggunakan kertas pasir (amplas), sehingga terlihat bersih dan halus. Setelah itu, bakal tersebut diolesi dengan minyak kelapa agar mengkilat. Setelah diolesi, bakal kemudian dijemur. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga benar-benar kering dan mengkilat seperti yang diinginkan oleh pembuat gambus. Bagian yang berlubang ditutupi dengan kulit binatang. Kulit yang digunakan adalah kulit biawak (varannus rudicollis), ular atau kulit ikan pari. Sebelum kulit binatang dilekatkan, kulit tersebut terlebih dahulu direndam untuk beberapa hari. Tujuannya untuk melunakkan dan memudahkan ketika dipaku. Kulit yang sudah direndam dipaku pada bakal menggunakan paku laduh (My).

Langkah seterusnya ialah memasang penyiput (My). Penyiput adalah tanduk yang ditancapkan di bagian pangkal-atas gambus. Pada sebuah gambus, terdapat empat buah penyiput yang berfungsi untuk menyamakan dan menegangkan senar gambus. Kemudian, senar dipasang dengan cara mengikat hujungnya pada bagian pangkal-atas dan menariknya ke bagian ujung-bawah gambus. Senar tersebut kemudian dipaku. Proses ini terus diulangi hingga semua senar terpasang. Untuk memudahkan pemain memetik senar gambus, sebuah tanduk kerbau digunakan sebagai penyendal atau lebih dikenal sebagai kuda-kuda gambus.

Setelah selesai meletakkan penyendal, pemain gambus dapat memainkannya. Memainkan gambus juga memerlukan cara dan tekniknya. Pemain dapat menggunakan jari atau menggunakan pementing. Biasanya pemain lebih suka memetik gambus dengan menggunakan pementing karena mereka dapat memainkan alat musik tersebut dalam waktu yang agak lama.

Sumber : 1. http://www.karyanet.com.my
2. Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Unversitas Riau, Atlas Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau, (Pekanabaru, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005).
3. Melayu Online
4. Sumber Photo: www.zanesville.ohiou.edu

 
.....:: “KEHADIRAN BLOG INI SEJAK 12 OKTOBER 2009 DIHARAPKAN MENJADI PENYEJUK DAN IKUT MELESTARIKAN TEMBANG-TEMBANG KLASIK YANG GAUNGNYA SUDAH MULAI MEMUDAR”. Semoga ! :: ...........