Masjid Aqsha di Palestina

Masjid ini pernah disinggah oleh Nabi SAW pada malam Isra' Mi'raj

Prof. H. Ahmad Baqi

Sang Maestro Musik Gambus Legendaris Dari Medan

Dra. Hajjah Nur Asiah Djamil dan Kawan-kawan

Seorang penyanyi dan pencipta lagu Qasidah yang sangat terkenal dari Medan.

Grup Music El-Surayya Medan

Group Musik El-Surayya Medan telah mengakomudir hampir semua lagu ciptaan Ahmad Baqi

Prof. H. Ahmad Baqi

Beliau telah menciptakan cukup banyak lagu dan partiturnya, bahkan ada yang belum sempat dinyanyikan sampai beliau meninggal dunia

Dra. Hajjah Nur Asiah Djamil dan kawan-kawan

Penyanyi dan pencipta lagu qasidah legendaris ini sampai sekarang masih aktif berdakwah dan membimbing

Orker Gambus Nasida Ria

Grup musik gambus Nasida Ria pernah merajai jenis musik ini terutama di Pulau Jawa dan gaungnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara

Masjidin Nabawi di Madinah Al-Munawwarah

Masjid ini awalnya dibangun pada masa Rasulullah SAW dan terus mengalami renovasi masa-masa sesudahnya

Masjidil Haram di Mekkah Al-Mukarramah

Kesinilah kesatuan hadap umat Islam di seluruh dunia ketika melaksanakan Shalat.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid ini adalah saksi bisu keganasan Gelombang Tsunami 26 Desember 2004.

MP3_Irama Padang Pasir

Kami hadirkan sebuah album hasil gubahan dengan musik lebih modern. Mohon maaf bukan penyanyi asli semua, namun hanya ini yang dapat kami hadirkan di sini. 

1-Ramadhan
2-Panggilan Jihad
3-Kasih Ibu
4-Wahai Mawar
5-Hanya Kenangan
6-Iradat Tuhan
7-Renungan Masa
8-Ahbabina
9-Mali Ila Ahadin

TERIMA KASIH ATAS KESEMPATAN ANDA BERKUNJUNG KE BLOG INI, SEMOGA MENDAPAT KEPUASAN.......

Cut Intan Ibnoe Arhas

Cut Intan Ibnoe Arhas adalah salah seorang penyanyi pemula yang baru memulai kariernya di blantika musik Irama Padang Pasir etnis Aceh, namun baru keluar satu album, yang bersangkutan keburu menghadap Yang Maha Kuasa (meninggal dunia) dalam musibah gempa/tsunami Aceh 24 Desember 2004 (allahummaghfir laha warham ha). Sebelum berpulang ke Rahmatullah, Cut Intan, sedang menempuh pendidikan di kelas III Madrasah Aliyah Negeri Banda Aceh. Putri bungsu dari tiga bersaudara ini, mewarisi bakat seni dari ayahnya IBNOE ARHAS (penyanyi/pencipta lagu Irama Padang Pasir dan Dangdut Aceh era 80-an) dan darah seni ibunya CUT ROSMAWAR (penyanyi dangdut/qasidah Aceh era 80-an). Dan lagu-lagu yang kami hadirkan ini merupakan ciptaan ayahnya sendiri, shang maestro Irama Padang Pasir Aceh IBNOE ARHAS.

Side A
01 Cut Intan Ibnoe Arhas Panggilan Tuhan
02 Cut Intan Ibnoe Arhas Sabee Lam Bala
03 Cut Intan Ibnoe Arhas Teumanyong
04 Cut Intan Ibnoe Arhas Aneuk Nyang Malang
05 Cut Intan Ibnoe Arhas Peurunoe Beut
06 Cut Intan Ibnoe Arhas Buleuen Ramadhan

Side B
07 Cut Intan Ibnoe Arhas Uroe Raya
08 Cut Intan Ibnoe Arhas Rukon Keulimong
09 Cut Intan Ibnoe Arhas Aneuk Neulayan
10 Cut Intan Ibnoe Arhas Rukon Islam
11 Cut Intan Ibnoe Arhas Hudep Manusia

Musik Etnis Atjeh
Lailahaillah
Raket Bak Pisang

Ahmad Baqi Vol. 5

Ini beberapa lagu ciptaan Ahmad Baqi yang dilantunkan oleh El Suraya Group dan merupakan album volume 5. Album ini sepertinya asli, sebab dari bentuk kaset dan sampulnya terkesan jadul. Nikmati saja dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya.

1. Madah Terakhir
2. Pesan dalam Irama
3. Petuah
4. Pinta dan Doa
5. Selamat Berpisah
6. Selimut Putih
7. Sesal dan Kesal
8. Usah Dikenang

Qasidah_Titi Said

Titi Said adalah seorang penyanyi legendaris di belantika musik-musik berirama melayu. Mp3 yang kami hadirkan kali ini adalah tembangnya dengan irama qasidah modern.  

01. Aini 
02. Ayah Ibu 
03. Era Reformasi 
04. Fitnah 
05. Indung-indung 
06. Introspeksi 
07. Jangan Bersenang-senang 
08. Kuasa Allah 
09. Mari Oh Mari 
10. Muhammad Al Amin 
11. P H K 
12. Voltase Iman 

-------------------- terima kasih atas kunjungan anda -------------------

Hj. Nur Asiah Djamil

Biduanita yang meroket namanya di belantika musik qasidahan di tahun 80-an banyak sekali menghasilkan album, baik yang diiringin group musik Al-Barkah, Al-Wathan maupun El-Surayya. Siapa lagi kalau bukan Hajjah Nur Asiah Djamil. Kami hadirkan kembali tembang-tembang "mangat" alias enak satu kaset lagu-lagu yang dibawakan bersama groupnya. Kesyahduan lantuanan suaranya membuat kami tergugah meng-upload lagu-lagu ini dan memberikan sharing dowload gratis kepada Anda.
   
1. Ibda' Binafsik  
2. Demi Masa  
3. Fajar Menyinsing 
 4. Menuntut Ilmu  
5. Babussalam 
 6. Ash-Shalatu 'alan Nabi 
7. Lebah  
8. Adikku Sayang

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA ............!

Mp3 Asmidar Darwis

Asmidar Darwis adalah salah seorang penyanyi lagu-lagu berirama gambus dan Melayu. Biasanya beliau berduet dengan saudaranya sendiri Zul Darwis. Penyanyi asal Sumatera Barat ini telah mengukir sejarah lagu-lagu Melayu dan Gambus dan merupakan salah seorang yang meniti karier menyanyi dari bawah. Beliau hadir di belantika musik gambus berbarengan dengan menguat Gruop Al-Barkah pimpinan Hj. Nur Asiah Djamil dan El Suraya Group pimpinan Ahmad Baqi.
Kali ini kami hadirkan beberapa tembang Gambus yang dinyanyikan Asmidar Darwis. 

1. Doa dan Air Mata
2. Kasih Ibunda
3. Kepiluan
4. Maulid Nabi
5. Nelayan
6. Pemuda
7. Yatim Piatu


Mp3 Ciptaan Ahmad Baqi

Ahmad Baqi adalah salah seorang penciptaan lagu-lagu berirama padang pasir dan umumnya dibawakan oleh El Surayya Grouf dan Al-Barkah Group pimpinan Hj. Nur Asiah Djamil. Berikut ini adalah bebepaa lagu ciptaannya yang dipopulerkan oleh El Suraya dan dirilis ulang oleh anaknya.

1. Subhanalllah
2. Permohonan
3. Merantau
4. Jangan Durhaka
5. Haryarni
6. Bunda
7. Kata Hati

Alat Musik Suling

Seruling atau sering juga disebut "suling" merupakan sejenis alat musik yang ditiup dan terbuat dari bambu. Namun kini seruling modern ada yang dibuat dari logam aluminium dan plastik. Cara memainkannya adalah dengan meniup. Akan tetapi untuk mendapatkan bunyi yang baik dan benar sesuai dengan tangga nada, haruslah dipelajari dan disesuaikan dengan jenis musik yang dimainkan. Dalam memainkan lagu dengan irama Padang Pasir (gambus), lagu-lagu berirama Dangdut klasik dan Irama Melayu Deli, keberadaan alat musik ini hampir tidak bisa dipisahkan. Sumber foto Suling Klasik : malaysiana.pnm.my Sumber foto Suling Modern : http://ms.wikipedia.org

Alat Musik Biola

Biola adalah sebuah alat musik gesek berdawai yang memiliki empat senar yang disetel berbeda satu sama lain dengan interval sempurna kelima. Nada yang paling rendah adalah nada G.

Biola memiliki nada tertinggi di antara keluarga biola, yaitu viola dan cello. Alat musik gesek berdawai yang lainnya, bas, secara teknis masuk ke dalam keluarga viol. Kertas musik untuk biola hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G.

Sebuah nama yang lazim dipakai untuk biola ialah fiddle, dan biola seringkali disebut fiddle jika digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional. Di dalam bahasa Indonesia, orang yang memainkan biola biasa hanya disebut pemain biola, belum ada istilah khusus untuk hal tersebut. Orang yang membuat atau membetulkan alat musik berdawai, termasuk biola, disebut luthier. 

Sebuah biola dibagi menjadi beberapa bagian: badan biola, leher biola, jembatan biola, batang penghubung, senar, dan beberapa macam perangkat pembantu. Perangkat pembantu tersebut antara lain pasak penyetel untuk setiap senar, ekor biola untuk menahan senar, pin dan tali untuk menahan ekor biola, beberapa penyetel tambahan pada ekor biola bila diperlukan, dan sebuah penyangga dagu. (Penyangga dagu tersebut dapat tergabung dengan ekor biola ataupun dipasang di sebelah kirinya.) Badan biola terdiri atas dua papan suara yang melengkung, disatukan oleh kayu yang disebut iga biola. Biola dilem menggunakan lem kulit binatang, atau resin. Iga biola biasanya terdiri dari bagian atas keempat sudut, bagian bawah, dan garis tipis yang disebut lapisan dalam, yang membantu mempertahankan lekukan pada iga biola, dan memperluas permukaan untuk pengeleman. Badan biola menyerupai bentuk jam pasir. Dua buah lekukan menyerupai huruf C pada kedua sisi samping biola dan memberikan ruang bagi busur biola untuk bergerak. Umumnya bagian biola dibuat dari kayu spruce, sejenis kayu cemara, yang dipahat sehingga memiliki bentuk yang simetris dan diberi dua lubang suara (atau lubang-F, diberi nama demikian karena bentuknya). Lubang suara tersebut mempengaruhi kelenturan suara biola, dan juga sebagai "lubang nafas" biola pada saat udara beresonasi di dalamnya. Pada pinggir permukaan ini, dibentuk suatu lekukan garis yang disebut purfling. Tujuannya ialah menghalangi retakan yang berasal dari pinggir. Sebuah balok kayu kecil dipasang di dalam permukaan atas biola, sejajar dengan jembatan biola di atasnya, untuk menambah massa serta kekerasan permukaan atas biola. Bagian-bagian biola dibuat dari kayu mapel, biasa dipilih yang memiliki alur sama. Bagian belakang biola umumnya dibuat dari kayu utuh yang dipahat secara simetris. Bagian ini sering pula dibentuk purfling walaupun dalam hal ini tidak seberapa berpengaruh terhadap biola itu sendiri. Beberapa biola antik dibubuhi tulisan tangan atau diberi lapisan cat sebagai ganti purfling pada bagian belakang biola. Sebuah tonjolan setengah lingkaran kecil yang terdapat pada bagian yang dekat dengan leher biola memberikan permukaan tambahan pada saat pengeleman. Tonjolan tersebut penting untuk sambungan antara leher dan badan biola, namun pada saat mengukur panjang biola bagian ini tidak dihiraukan. Leher biola biasanya terbuat dari kayu mapel yang setipe dengan bagian belakang dan samping badan biola. Pada leher biola terdapat papan jari yang dibuat dari kayu eboni atau kayu lain yang dicat hitam. Kayu eboni sering dipilih oleh pengrajin biola karena sifatnya yang keras, menawan, dan tahan lama. Beberapa biola yang sangat tua menggunakan kayu mapel untuk papan jarinya, dan dipernis dengan kayu eboni. Pada ujung papan jari yang atas terdapat segaris kayu yang menonjol, biasa kayu eboni atau gading, yang disebut sadel atas. Tonjolan ini digunakan untuk menahan senar, sama seperti jembatan biola digunakan untuk hal yang sama di bagian badan biola. Sumber : www.id.wikipedia.org. Kredit foto : malaysiana.pnm.my

Alat Musik Rebana

Rebana adalah sejenis gendang satu muka yang digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian rakyat, disebut juga ‘Adai-Adai‘ oleh masyarakat Melayu berketurunan Brunei di daerah Papar, Beaufort dan Sipitang.

Rebana dipukul dengan satu tangan seperti juga teknik yang digunakan untuk rebana yang terdapat dalam ensemble musik sinkretik yang lain. Pukulan rebana serta nyanyian Adai-Adai diadakan untuk merayakan pesta atau menyambut tamu kehormatan. Bagi suku-bangsa Bajau, terdapat juga sejenis rebana (gendang panjang) yang mempunyai satu muka.

Gendang itu diposisikan tegak di atas lantai dan dipukul dengan tangan.Gendang ini biasanya digunakan dalam kesenian musik ‘Bertitik‘ untuk memainkan pola pukulan seperti irama ‘Kedidi‘, ‘Ayas‘ dan ‘Tidong‘. Di kalangan masyarakat Brunei terdapat juga sejenis gendang kecil yang disebut ‘gendang labik‘ dan ‘dombak‘, yaitu sejenis gendang satu muka. Sedangkan bagi masyarakat Brunei yang berdomisili di Sabah, gendang rebana sering juga disebut ‘rempana‘. 

Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadrah. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. 

Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama. Ada beberapa jenis rebana, yaitu: 
  1. Rebana besar Rebana besar adalah rebana satu muka yang terbesar yang pernah ada dalam musik masyarakat Melayu. Kayu atau potted type dibuat dari kayu yang keras seperti merbau (sympetelandra Permukaannya yang berukuran dalam 80 cm - 100 cm pada garis lintang, diregangkan dengan kulit kerbau yang berfungsi untuk menimbulkan suara, disebut juga sounding body. Rotan yang dibelah dua digunakan sebagai bahan ekustik utama bagi proses penegangan kulit dan diperkokoh dengan kayu-kayu yang juga berfungsi sebagai alat peneyeimbang nada. Lukisan yang bermotifkan alam seperti bunga-bungaan diwarnai dengan berbagai warna sebagai simbol serta kehalusan estetikanya. Dalam konteks persembahan (pertunjukan), rebana dipukul secara langsung dengan tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul, untuk mengiringi ‘nyanyian zikir, yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. Nyanyian zikir Rebana Besar disampaikan secara chorus, dengan paduan suara oleh pemain rebana yang biasanya beranggotakan tiga orang pemain dalam setiap kelompok. Persembahan Rebana Besar sering diadakan untuk memeriahkan pesta perkawinan dan juga menyambut hari besar bagi masyarakat di Kelantan, Malaysia. Namun begitu, di negeri Kelantan terdapat juga sejenis musik rakyat yang menggunakan peralatan musik Rebana Besar. Istilah ini disebut Rebana Ubi. Secara fisik rebana ubi mempunyai bentuk yang sama seperti rebana besar, tetapi berukuran lebih kecil dan menggunakan bahan akustik yang sama dalam proses pembuatannya dengan pembuatan rebana besar. Bingkai gendangnya mempunyai lubang yang berbentuk seperti pasu. Tetapi permukaan besarnya telah ditutup dengan kulit lembu sebagai membrannya atau bahan bunyi. Dalam konteks persembahan (pertunjukan), rebana ubi dipukul dengan tangan ataupun alat pemukul yang disampul dengan bahan lembut seperti tali, getah dan sebagainya. Persembahan rebana ubi diadakan untuk memeriahkan pesta perkawinan atau pertandingan. Dalam acara pertandingan misalnya mereka akan memainkan lagu-lagu yang diinspirasikan oleh repertoir musik Wayang Kulit Kelantan serta lagu-lagu wajib yang lain seperti lagu ‘Masuk Bangsal‘ dan sebagainya. Setiap kelompok beranggotakan enam orang pemain dan tiga buah rebana. 
  2. Rebana mangkuk Rebana Mangkuk juga termasuk dalam jenis gendang yang hanya memiliki satu membran tempat untuk dipukul. Bingkainya dibuat dari mangkuk yang digunakan untuk mengumpul susu getah. biasanya mangkuk-mangkuk tersebut dibuat dari tanah Hat. Pada permukaannya ditutup dengan beberapa lapisan getah sebagai bahan bunyi menggunakan kaedah siratan rotan dan bahan pelekat. Untuk menegangkan lapisan getah itu tadi, dua keping berbaji kayu dimasukkan secara bertentangan pada bahagian bawah alat berkenaan kemudian diketatkan. Berbaji kayu ini adalah berfungsi sebagai alat tala kepada rebana berkenaan seperti juga yang digunakan untuk alat rebana yang lain seperti Rebana Ubi dan sebagainya. Rebana Mangkuk digunakan untuk memainkan lagu-Iagu seperti dalam repertoire Rebana Ubi untuk musik hiburan bagi komunitas setempat. Rebana ini dipukul dengan sebatang kayu khusus yang ditutupi dengan getah. Rebana Mangkuk dianggap sebagai alat musik eksperimental yang masukkan ke dalam kategoti rebana tradisional yang lain. 

Sumber Teks : http://melayuonline.com/ Kredit foto : zanesville.ohio.edu

Alat Musik Akordeon

Akordeon merupakan alat musik sejenis organ. Alat musik ini relatif kecil, dan dimainkan dengan cara digantungkan di leher. Pemusik memainkan tombol-tombol akord dengan jari-jari tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Pada saat dimainkan, akordeon didorong dan ditarik untuk menggerakkan udara di dalamnya. Pergerakan udara ini disalurkan ke lidah akordeon sehingga menimbulkan bunyi. Alat musik ini, digunakan untuk mengiringi musik berirama padang pasir seperti Group Musik El Surayya. Sumber : Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid I, (Jakarta, PT. Cipta Adi Pustaka: 1988) Kredit foto : encyklopedia.interia.pl

Alat Musik Gambus

Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan atau acara syukuran.Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta pernikahan atau acara syukuran.

Alat musik ini identik dengan nyanyian yang bernafaskan Islam. Dalam mengiringi penyanyi, alat musik ini juga diiringi dengan alat musik lain, seperti marwas untuk memperindah irama nyanyian. Bentuknya yang unik seperti bentuk buah labu siam atau labu air (My) menjadikannya mudah dikenal. Alat musik gambus juga dianggap penting dalam nyanyian Ghazal yang berasal dari Timur Tengah pada masa kesultanan Malaka. Kedatangan pedagang-pedagang Timur Tengah pada zaman Kesultanan Melayu Melaka telah membawa budaya masyarakat mereka dan memperkenalkannya kepada masyarakat di Tanah Melayu.

Ada beberapa jenis gambus yang dapat diperoleh di mana saja, terutama di kawasan tanah Melayu. Jenis-jenis tersebut, seperti gambus yang hanya mempunyai tiga senar dan ada juga gambus yang mempunyai 12 senar. Jumlah senar biasanya terpulang pada yang memainkannya. Selain dimainkan secara solo, alat musik ini dapat juga dimainkan secara berkelompok. Alat musik gambus dapat dimainkan di dalam perkumpulan musik-musik tradisional atau modern. Bila dikolaborasi antara alat-alat musik tradisional dengan modern akan menghasilkan irama yang merdu serta mempunyai keunikan tersendiri.

Cara pembuatan gambus tidak jauh berbeda dengan pembuatan kompang. Perbedaan itu terletak dari segi bentuknya saja. Gambus mempunyai ujung tempat menyetel senar, sementara kompang hanya dibuat bulat, lalu ditutupi dengan kulit sebagai membrannya. Gambus dibuat dari batang pohon dari jenis yang ringan seperti angsana (pterocarpus indicus) atau nibung (oncosperma tigillaria) yang dipilih. Pohon yang sudah ditebang, kemudian dipotong menurut ukuran yang telah tentukan. Selanjutnya pohon itu dilubangi di bagian tengahnya sehingga terbentuk seperti lubang yang dalam. Bagian ini dikenal sebagai bakal.

Bakal diperhalus dengan menggunakan kertas pasir (amplas), sehingga terlihat bersih dan halus. Setelah itu, bakal tersebut diolesi dengan minyak kelapa agar mengkilat. Setelah diolesi, bakal kemudian dijemur. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga benar-benar kering dan mengkilat seperti yang diinginkan oleh pembuat gambus. Bagian yang berlubang ditutupi dengan kulit binatang. Kulit yang digunakan adalah kulit biawak (varannus rudicollis), ular atau kulit ikan pari. Sebelum kulit binatang dilekatkan, kulit tersebut terlebih dahulu direndam untuk beberapa hari. Tujuannya untuk melunakkan dan memudahkan ketika dipaku. Kulit yang sudah direndam dipaku pada bakal menggunakan paku laduh (My).

Langkah seterusnya ialah memasang penyiput (My). Penyiput adalah tanduk yang ditancapkan di bagian pangkal-atas gambus. Pada sebuah gambus, terdapat empat buah penyiput yang berfungsi untuk menyamakan dan menegangkan senar gambus. Kemudian, senar dipasang dengan cara mengikat hujungnya pada bagian pangkal-atas dan menariknya ke bagian ujung-bawah gambus. Senar tersebut kemudian dipaku. Proses ini terus diulangi hingga semua senar terpasang. Untuk memudahkan pemain memetik senar gambus, sebuah tanduk kerbau digunakan sebagai penyendal atau lebih dikenal sebagai kuda-kuda gambus.

Setelah selesai meletakkan penyendal, pemain gambus dapat memainkannya. Memainkan gambus juga memerlukan cara dan tekniknya. Pemain dapat menggunakan jari atau menggunakan pementing. Biasanya pemain lebih suka memetik gambus dengan menggunakan pementing karena mereka dapat memainkan alat musik tersebut dalam waktu yang agak lama.

Sumber : 1. http://www.karyanet.com.my
2. Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Unversitas Riau, Atlas Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau, (Pekanabaru, Yayasan Bandar Seni Raja Ali Haji, 2005).
3. Melayu Online
4. Sumber Photo: www.zanesville.ohiou.edu

Dra. Hjh. Nur Asiah Djamil

Kesyahduan dan penuh maknanya tembang-tembang Irama Gambus lantunan Dra. Hj. Nur Asiah Djamil mempunyai hikmah tersendiri bagi banyak orang. Biduanita yang sangat terkenal di belantika musik irama gambus ini berasal dari Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Lagu-lagunya tidak saja digandrungi di Sumatera, Pulau Jawa, Kalimantan bahkan juga di luar negeri seperti Malaysia, Brunei dan Thailand Selatan.
Lagu penuh hikmah, penyadaran dan ilmu pengetahuan ini banyak mendapat sambutan dari penggemarnya, bahkan pengguna blog ini selalu menantikan kehadiran posting baru album-albumnya. Namun karena keterbatasan, apa yang kami punyai sudah kami hadirkan dalam blog ini. Berikut ini kami hadirkan beberapa lagu berirama Padang Pasir (gambus) yang dilantunkan oleh Dra. Hajjah Nur Asiah Djamil....... diiringi musik klasik bersama groupnya atau murid-muridnya. Beliau juga seorang qari'ah terbaik tingkat Nasional, namun kami belum menemukan kasetnya.
Nikmati alunan syahdu beliau dalam lagu-lagu berikut:


Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena semula postingan ini berisi 21 tembang dari Dra. Hj. Nur Asiah Djamil, namun karena terjadi sesuatu di www.4shared.com sebagian lagu terhapus sehingga tidak dapat di download. Insya Allah ke depan lagu-lagu yang telah terhapus di 4shared.com dapat kami upload kembali.

o Rukiah Zain (El Surayya)

Rukiah Zain adalah seorang bidwanita dalam El Suraya Group Medan. Pengen mendengar kesyahduan suaranya dalam mendendangkan lagu-lagu Irama Padang Pasir, silahkan D O W N L O A D di Blog ini ! 

Rukiah Zain - Madah Terakhir
Rukiah Zain-Fatwa Orang Tua
Rukiah Zain-Akhir Hidup
Rukiah Zain-Di Suatu Masa
Rukiah Zain-Beduk Dan Azan

Saran dari Anda, membuat blog ini tambah lebih baik dan bermanfaat.

o Mp3 El Surayya

El Surayya adalah sebuah Group musik Irama Padang Pasir di era 70-an yang berdomisili di kota Medan Sumatera Utara. Syair-syair yang mereka bawakan mengandung hikmah dan pengajaran serta pengetahuan berharga bagi kita dalam menjalankan syari'at agama Islam sekaligus menjadi hiburan penyejuk hati. Anda Dapat mendownload Mp3 Irama Padang Pasir El-Surayya melalui Blogspot ini.

Melalui blog ini, kami mencoba menghadirkan kepada Anda para penikmat musik Irama Padang Pasir yang tentunya harus didahului dengan mendowload file MP3 nya berikut ini: 

1. PERJUANGAN
2. DI UJUNG MALAM
3. JASA IBUNDA
4. SUBUH
5. MAULID NABI
6. NASEHAT-1
7. NASEHAT
8. IBADAH HAJI

1. Orkes El Suraya - Selamat Datang
2. Orkes El Suraya - Pemuda Islam
3. Orkes El Suraya - Kasih Ibu Bapa
4. Orkes El Suraya - Tak Mungkin Kembali
5. Orkes El Suraya - Panggilan Kaabah
6. Orkes El Suraya - Doa Dalam Irama
7. Orkes El Suraya - Selimut Putih
8. Orkes El Suraya - Pusara Kasih
9. Orkes El Suraya - Mohon Dan Pinta
10. Orkes El Suraya - Anak Derhaka
11. Orkes El Suraya - Harta Dunia


BACA FILE TERKAIT: 1. Musik Dakwah 2. Irama Padang Pasir

o Mp3 Nasida Ria

Nasida Ria adalah sebuah Group Musik Qasidah yang telah mengukir sejarah gemilang dalam menghibur para pencinta lagu-lagu berirama padang pasir. Kepingin mendengar kedahsyatan musiknya, silahkan download sendiri. 

01 Bekal Hari Depan
02 Busana Muslim
03 Salah Sangka
04 Ucapan Hikmah
05 Menyongsong Masa Depan
06 Dimana Mana Dosa
07 Maafkan Anakku
08 Habibi
09 1001 SELERA
10 Bersyukurlah
11 Cahaya
12 Cita Cita Si Miskin
13 Gebyar Jilbamu
14 Manusia Seutuhnya
15 Bekal Hari Depan
16 Busana Muslim
17 Salah Sangka
18 Ucapan Hikmah
19 Menyongsong Masa Depan
20 Dimana Mana Dosa
21 Maafkan Anakku
22 Habibi
23 1001 SELERA
24 Bersyukurlah
25 Cahaya
26 Cita Cita Si Miskin
27 Gebyar Jilbamu
28 Manusia Seutuhnya

Kepuasan Anda suatu kebanggaan bagi kami, dan membuktikan kita mempunyai hobby yang sama. Semoga Musik Qasidah masih mempunyai penggemar yang banyak.

o Musik Dakwah

Musik irama padang pasir berkecenderungan dakwah, baik irama maupun liriknya. unsur arab menonjol dalam irama meski ada juga pengaruh lain. keadaan organisasi orkes padang pasir di medan tidak tertib. KECENDERUNGAN "dakwah" dalam seni terutama musik, bukan semata-mata propaganda. "Kesenian itu indah", kata Datuk Ashry (51 tahun). Menteri Kemajuan Tanah, Galian dan Tugas-tugas Khas Malaysia menambahkan kepada koresponden TEMPO di Medan: "Yang Maha Indah itu adalah Allah Subhanahu wa ta'ala", Sedang musik, menurut pandangan pemuka partai PAS Malaysia yang juga menulis puisi dan penggemar musik padang pair, "merupakan suatu approach tersendiri dalam berdakwah". Sebab "pengertian dan peranan dakwah dalam Islam sangat luas sekali", katanya, Sulit untuk dijelaskan? Bagi Muchlis, pemimpin orkes Al-Wathan (Tanah Air), rupanya tidak. "Sajak atau syair-syairnya mengandung unsur agama, mengajak pendengarnya berbuat kebaikan yang diridhoi Allah", ia adalah anak muda yang sudah menciptakan lagu tak kurang dari 40 buah, di antaranya sudah direkam dalam enam volume (PH) long play. la memang tidak menyinggung apakah lagu dakwah musti bernafas Arab sebab ciptaannya sendiri punya tubuh Indonesia. Tetapi ayahnya, Haji Ghazali Hasan menegaskan "Buat apa lagu diciptakan dalam bahasa Arab. Kita berdakwah untuk orang Indonesia, bukan untuk urang Arab". Haji Rivai Abdul Manaf, yang agak lebih setuju di Indonesia-kannya lagu (TEMPO, 1 April 1972) -- walau iramanya boleh saja bermain di negeri berkata: "Dalam lagu, bukan hanyabau Arabnya saja yang ada. Tetapi boleh saja unsur Spanyol atau apa yang ada di Eropa lain". Barangkali seperti yang misalnya dilakukan Trio Bimbo. Memang haji yang satu ini bergelagat moderat menerima pengaruh. "Kenapa kita harus takut?". Karena itulah ia juga tidak keberatan sebuah lagu berirama tango dan meniru La Comparsita, asal dasar bertolaknya tetap ajaran atau suasana keagamaan. Ia memberi contoh salah-satu hasil karyanya berberjudul Kalimah Syahadat. Tetapi bagaimana dakwah akan berhasil kalau grup-grup padang pasir sendiri tidak memberi contoh yang baik? Ini kata-kata H. Bahrum Djamil SH, Ketua Yayasan Universitas Islam Sumatera Utara dan penulis lirik -- Nelayan yang lagunya diaransir Muchlis. "Persaudaraan yang kompak harus dipelihara dan tidak saling mengobrak-abrik atau berjalan sendiri-sendiri", katanya. Haji Bahrum memang tidak mempersoalkan ihwal manajemen dan organisasinya. Tetapi apa yang ada di Medan, selain masih lebih menonjol jiwa amatirnya, tata organisasi bukan saja tidak rapi malah banyak unek-uneknya. "Kode etik perorkesan belum ada di sini", keluh Djohan A. Nasution, dan "itulah salah satu sebab kenapa ada orkes padang pasir di daerah ini lebih menonjol ketidak-terlibatannya. Betapapun, soal-soal seperti itu memang lebih pantas ditanggulangi daripada berkhotbah panjang-lebar soal da'wah dan semacamnya, yang salah-salah bisa menyebabkan hasil karya terasa dipaksa-paksa. Sumber: Majalah TEMPO Edisi. 42/IV/21 - 27 Desember 1974

o Ke Arah Industri Rekaman

Al-Wathan adalah Orkes irama padang pasir yang paling menonjol di Medan. Atas undangan Datuk Ashry akan bermain di Malaysia, menghibur para pekerja dan transmigran. Penampilan mereka ini menuai berbagai kritik.

SAMPAI hari ini, Al-Wathan (Tanah Air) satu-satunya orkes irama padang pasir yang paling menonjol di Medan Grup ini pula yang banyak memblat rekaman baik berupa kaset maupun PH. Hampir semua liriknya ditulis oleh Muchlis -- sedang penyanyinya Ummi Nadra, isteri pemimpin orkes tersebut. Remaco juga pernah menggarap rekaman Al-Wathan dan grup ini selama dua tahun sudah pula dikontrak King Musical Industry Coy Kuala Lumpur. Memang PH Al-Wathan lebih banyak beredar di Malaysia.

Awal tahun depan grup ini akan ke sana lagi, setelah dua tahun lalu membawa acara tunggal di MTQ Internasional. Keberangkatan itu atas undangan resmi Menteri Datuk Ashary dan biayanya ditanggung Kementerian Kemajuan Tanah, Galian danT ugas-tugas Khas Malaysia. "Al-Wathan begitu berpengaruh di Malaysia", kata Datuk Ashry yang syairnya berjudul Pejuang Sejati telah disusun lagunya oleh Muchlis dan akan dimasukkan dalam nomor rekaman di sana. "Sejak Al-Wathan bermain selama dua bulan, berkeliling Malaysia, banyak pula para musisi kami yang membentuk orkes meniru Al-Wathan. Dan keadaan itu makin berkembang terus", tambah Datuk Ashry. "Dalam kesempatan akan datang orkes ini akan bertugas juga menghibur para pekerja dan transmigran di beberapa tempat di Malaysia".

Bila Mati Lampu
Grup musik anak Ghazali Hasan ini memang tambah berkembang. Dan tentang kemampuan Muchlis? "Anak ini baik, berbakat", kata Lily Suheiry pimpinan Orkes Studio Medan. "Tetapi ayahnya nampaknya terlalu terburu membesar-besarkannya. Ini bisa berbahaya bagi Muchlis sendiri. Anak ini sebenarnya sekarang dalam keadaan ketakutan. Terlalu cepat diorbit". Apa kata Ghazali Hasan?" "Tetapi Muchlis jua terus belajar. Buktinya ada. Barangkali ia pula satu-satunya pemusik padang pasir yang bisa baca not-balok di Medan. Ada orang bilang belajar not itu tidak perlu. Sebab pemusik yang berpedoman pada not katanya tidak bisa bermain bila mati lampu".

Soalnya tentu bukan hanya mati lampu, tetapi sebelum mati angin. Kritik sudah mulai main bertimbun dilontarkan pada Muchlis Ada yang menganggap musik dan lirik yang diciptakannya datar saja, monoton. Tetapi dalam menyusun intro, pujian juga hebat meskipun rasa curiga juga tidak kurang. Sebab dalam hal irama, lagu-lagu Muchlis ada yang berbau Batak Karo atau beberapa campuran dari musik daerah yang ada. Toh bila untuk itu ia malah bisa membela diri, soal lain -- yakni soal dia tidak mau menyerahkan lagu-lagunya kepada grup lain juga dipergunjingkan. Termasuk juga keengganan Muchlis membawakan lagu orang lain dalam grupnya "Sepatutnya ia mau pula mengajar orkes-orkes lain, yang masih kecil-kecil", tambah Muhaddis, pemimpin orkes El-Suraiya yang mengagumi Muchlis "Sedang lagu-lagu karya Muchlis berat. Sulit dibawakan orkes lain. Alangkah baiknya kalau ia mau turun tangan dan membantu grup-grup yang sedang tumbuh" Munaddis agaknya mewakili fikiran yang menginginkan agar "kemajuan dicapai bersama-sama" Sebaliknya sikap Muchlis itu bukankah menunjukkan semangat persaingan -- yang boleh merupakan tanda bagi orkes gambus di Medan yang sedang memasuki dunia industri?

Sumber : Majalah TEMPO Edisi. 41/IV/14 - 20 Desember 1974

o Irama Padang Pasir

Orkes IRAMA PADANG PASIR dulu bernama orkes gambus dengan tujuan pendiriannya untuk dakwah. masing-masing grup berlomba menyempurnakan pemain dan peralatan. orkes irama melayu telah lama pupus dari medan. (ms)

ADAPUN pertumbuhan orkes-orkes irama padang pasir di Sumatera Utara agak unik. Gerombolan musik yang berorientasi ke Timur Tengah itu, di daerah tersebut, memiliki sejarah yang konon sudah mulai sejak tahun tigapuluhan. Tokoh-tokoh seperti Hasyim PE mas, Haji Adam Sakimaman dan Haji Azra'i Abdurrauf atau Haji A. Rifai Abdja Manaf masih tetap dikenang sebagai penggerak orkes berirama kasidah itu. Alhamdulilah sampai sekarang mereka lmasih sehat walafiat. Malah seperti Haji Azra'i sendiri sekarang lebih dikenal sebagai guru para qari dan qariah yang mengikuti MTQ Nasional, selain pernah dikenal sebagai ahli kasidah tidak hanya di Sumatera Utara. Namanya terdengar sampai ke Malaysia. Sedang Haji Rivai sejak tahun 1938 -- ketika masih bekerja di Nirom -- sudah memulai karirnya sebagai pencipta lagu bernafas Mesir. Tetapi karya anggota DPRD Kotamadya Medan dari Golkar ini yang amat populer sampai sekarang adalah lagu panggilan Jihad yang meneriakkan "Allahu Akbar" -- dan karena itu -- sering dikenal sebagai lagu Allahu Akbar. Malah lagu ini dinilai oleh Menteri Kemajuan Tanah, Galian dan Tugas-tugas Khas Malaysia, Datuk Ashry bin Haji Muda seperti dikatakan kepada koresponden TEMPO di Medan baru-baru ini, sebagai lagu "yang, membangkitkan semangat dan kepahlawanan bagi perjoangan ummat Islam". Itulah sebabnya kenapa Panggilan Jihad sangat kami kagumi di Malaysia, karna jelas menggugah batin pendengarnya."

Dulu Gambus Namanya
Istilah "orkes irama padang pasir" baru muncul di Sumatera Utara sekitar tahun lima puluhan. Dulunya bernama "orkes gambus" dan selalu ditandai oleh peralatan oud yang bentuknya seperti rumah labi-labi, dan itulah gambus. Sedang yang disebut qasidah -- yang sekarang masih juga dikenal dan di Medan ada Perkumpulan Ahli Qasidah para pemainnya (atau penyanyinya) cuma mengandalkan suara, yang sering didahului oleh radat (solo) dan kemudian --diiringi suara koor. Tanpa menggunakan musik, baik berupa tamborin atau rebana, (TEMPO, 16 Nopember). Jadi agak berbeda dengan apa yang kini ditumbuhkan oleh qariah Hajjah Nurasiah Jamil dengan pasukannya Nasyid Nurul Asiah. Hajjah (yakni haji perempuan) yang masih nona ini, juara kedua MTQ Internasional di Kuala Lumpur tiga tahun lalu -- yang juga membuka perguruan mengaji Nurul Asiah di Simpang, Limun Medan -- sering tampil di TVRI Studio Medan Grup ini mengiringi nyanyian mereka dengan tamborin dan rebana kecil. Ini, semacam paduan suara yang mengandalkan dakwah Islam, seluruhnya terdiri dari gadis-gadis -- dan mereka baru saja kembali dari Jakarta memenuhi kontrak rekaman dari salah-satu perusahaan PH ibukota.


Pertumbuhan dan perkembangan orkes padang pasir di Sumatera Utara, terutama di Medan, dari hari ke hari makin memperlihatkan tampangnya. Selain tujuannya sudah jelas, untuk "dakwah", masing-masing grup berlomba menyempurnakan pemain dan peralatan.

Sehingga mereka tidak lagi sekedar sebuah orkes yang Cuma berbangga kalau bisa mendapat panggilan perhelatan atau kenduri. Tampang ini mulai diperlihatkan sejak munculnya El-Kawakib (Bintang-Bintang) yaitu sebuah gabungan orkes-orkes padang pasir yang ada di Medan terdiri dari berbagai nama, tetapi bila dibutuhkan bersedia bermain di bawah sebuah berdera. Sebagai pelopornya waktu itu, selain Haji Rivai sendiri jika muncul Ahmad Baqi dan Muhaddis Nasution. Yang dua terakhir ini selain mempunyai pasukan musik juga pencipta lagu dalam irama negeri Ibnu Saud, alias "model Mekah". El-Kawakib didirikan sejak tahun 1968. Tetapi entah apa sebabnya, sepak tedang orkes gabungan ini sekarang tidak lagi tumbuh segar. Aktivitasnya sudah tak terdengar lagi, sehingga orang kadang mengira Lidah mati. "Padahal cita-citanya sejak mulai tumbuh, seperti cerita Rivai sendiri, agar "para pemain mendalami musik "modern dan klasik" yang tidak saja berbau Arab. Ia diharapkan bisalah menjadi sebuah orkes simphoni nanti-nya. Tetapi cita-cita itu nyatanya kandas.

Asal Tumbuh
 

Menurut Djohan A. Nasution, Kepala Kabin Kesenian Perwakilan Departemen P dan K Sumatera Utara, orkes padang pasir di Sumatera-Utara yang terdaftar di arsipnya sampai sekarang 28 buah. Tetapi jumlah sebegitu sudah termasuk grup nasyid (nyanyian bersama model Nur Asiah Djamil tadi) hingga menjalar ke pelosok Tanjung Balai di Kabupaten Asahan. Grup nasyid tersebut di Medan dan sekitarnya saja ada 17 buah, seperti kata Muhaddis Nasution (52 tahun) kepada TEMPO minggu lalu Biarpun jumlahnya lumayan juga, namun tidak seluruhnya dapat dipegang berdasar kenyataan. Sebab ada "orkes" yang dibentuk asal jadi.

Yang dihitung aktif secara menyolok, terutama di TVRI Studio Medan atau di RRI Nusantara III Medan, boleh dihitung dengan jari sebelah. Sedang antara sebuah grup detigan grup lainnya naga-naganya tidak saling akur pula. Di samping ada ekspansi yang hanya sekedar ke Malaysia, di segi lain ada pula grup yang dipaksa tumbuh sembari mencaplok pemain dan orkes sana orkes sini. Para pemain ini bersedia bila mereka melihat harapan dapat menyeberang ke Malaysia itulah. Mennrut sinyalemen Djohan A. Nasution, "grup-grup seperti ini selain mengacau juga akan kita tertibkan, karena bukan tidak mungkin yang disebut "orkes" itu anggotanya terdiri dari dua prang saja. Yakni pengurusnya". Karena itu, kata Djohan lagi pada TEMPO. "sekarang kita lebih hati-hati lagi memberikan rekomendasi keberangkatan sebuah orkes ke Malaysia". Sikap memperketat ini dilakukan karena "bukan tidak mungkin grup ini bila sampai di sana nanti membuat onar saja. Yang malu kan kita", kata sutradara drama yang sekali-sekali gandrung menulis puisi ini.

Gadis Manis Yang Pintar
 

Terlepas dari soal itu, menarik bahwa barisan instrumen orkes-orkes padang pasir umumnya lebih banyak dipegang wanita. Lazimnya adalah gadis-gadis manis di balik tudung lingkup, yang selain pintar tarik suara juga mahir mengurut biola, menabuh bambam, meniup suling bambu atau memetik oud, gambus. Mulah di El-Surayya Putri, pemegang organ juga sang gadis. Mereka umumnya-tidak hanya cekatan memainkan satu jenis alat, malah lihai pula bertugas rangkap. Tetapi ciri yang menonjol dari orkes, padang pasir di Medan -- sekarang tidak kelihatan pada barisan biola yang tidak hanya cukup satu atau dua saja, malah ada yang sampai delapan atau sepuluh orang. Rupanya melihat barisan inilah mereka ingin menumbuhkan sebuah tampang, meniru orkes simphoni. Dan di orkes padang pasir, biola meng "hire of instrument " seperti kata Muchlis (26 tahun) kepada TEMPO. Tentu alat-alat lain, tambah pimpinan orkes Al Wathan yang gemar puisi dan pengagum Profesor Riyadh Sembathi (konduktor Kairo) serta pernah ikut dalam Orkes Simphoni Medan, "juga tidak diabaikan begitu saja". Misalnya, akordeon, selo, guitar pengiring, tamborin, botiggo, sun atau pun organ. Pendek kata, alat-alat musik yang menggantungkan nafasnya pada listrik bukan benda yang "haram" baginya. Al-Wathan sendiri kabarnya tidak berapa lama lagi akan mendapat alat yang unik juga. Mungkin merupakan sebuah orkes padang pasir satu-satunya yang ada di Indonesia yang bakal memilikinya. Menurut Ustad Ghazali Hasan -- ayah kandung Muchlis "tidak lama lagi Al-Wathan akan mendapat qanun", sebuah alat musik spesitik Timur Tengah (sejenis gitar lebih kering dan lincah suaranya dibanding gambus, tetapi berbeda dari mandolin. Sampai sekarang memang tidak ada toko-toko di sini yang menjual red). Alat tersebut dihadiahkan kedutaan Mesir di Jakarta. Sedang Muchlis sendiri pernah mendapat penghargaan atas prestasinya dari bekas Pangko-wilhan I Sumatera/Kalimantan Barat Letjen Widodo berupa "sebuah biola termahal buatan Jerman", katanya.

Bukan Tampang Melayu
 

Tampang orkes irama padang pasir di Medan jelas banyak bedanya dengan yang ada di Jawa, dan kelihatannya belum ada minat ingin meniru cara yang telah ditempuh grup Bintang-Bintang Ilahi pimpinan Agus Sunaryo atau Zamain Bersaudara yang membawakan "tap-dakwah" dengan iringan band pop. Grup-grup di' Medan, begitu jelas ingin menjadi duplikat Mesir atau Beirut, yang musiknya sebenarnya didengarkan diam-diam oleh berjuta-juta orang di Indonesia lewat radio setiap, jam 1.00 atau 2.00 malam waktu Indonesia. Tetapi ini bukan berarti cara "dakwah" ala Bimbo tidak mereka hargai.

Muchlis sendiri yang tampaknya menyenangi lagu-lagu klasik Barat dan menguasai not-balok malah memberi komentar begitu: "Musik Bimbo atau Koes Plus memiliki gaya tersendiri" kendati kedua pasukan ini dinilainya juga sebagai "lebih banyak meniru gaya ke Barat-baratan". Musik yang condong mencaplok nafas zafin sudah lama pupus di Medan, walaupun grup sejenis itu dulunya pernah dikenal sebagai musiknya orang Melayu Sumatera Timur dengan predikat "berkebuda-yaan Islam". Tetapi grub yang tumbuh sekarang (yaitu padang pasir), jelas pula tidak ingin disebut sebagai berwajah Melayu, seperti orkes gambus Hamzah Dolmat di Malaysia. Malah Dolmat sekarang ini, sudah pula mencampur baurkannya dengan irama dang-dut atau calti, walaupun diantara alat instrumennya tak ketinggalan dipakai oud atau piano. Dalain hal irama orkes padang pasir di Medan seperti Al-Wathan orientasinya tetap Arab atau Mesir seperti kata Muchlis.

Kalau selama ini ada yang beranggapan bahwa orkes padang pasir sama seperti orkes irama Melayu (dan memang membawakan lagu-lagu Melayu seperti Padang Pulau Kampai, Serampang Dua Belas dan sejenisnya), sudah terbantah. Campur-baur selama ini agaknya bisa dipisahkan. Karena sudah jelas pula ke mana arah kiblatnya, bukan?
Sumber: Majalah TEMPO Nomor: 40/IV/07 - 13 Desember 1974










 
.....:: “DRA. HJ. NUR ASIAH DJAMIL TELAH MENINGGALKAN DUNIA FANA INI. MARI SAMA-SAMA KITA BERDO'A KEPADA ALLAH SWT SEMOGA ALMARHUMAH DITEMPATKAN DI SYURGA-NYA, AMIN YA RABBAL 'ALAMIN :: ...........